Inilah 6 Ciri taubat diterima

Ada pertanyaan kepada para hukama, yang isinya seperti ini, “Apakah bisa tahu seseorang dimana-mana taubat dari dosanya, apakah taubatnya tersebut diterima atau ditolak?”

Maka dijawab oleh ba’dhul hukama, “Aku tidak bisa memutuskan dalam masalah ini, apakah taubatnya orang tersebut diterima atau ditolak. Tetapi apabila taubatnya diterima ada 6 macam ciri, yaitu:

  • Seseorang melihat kepada dirinya bahwa dia tidak di ma’shum dari dosa, maka bisa saja dia melakukan ma’siyat.
  • Melihat di dalam hatinya tidak ada kebahagiaan, artinya jauh dari rasa senang, serta merasa prihatin dan menyesal hatinya.
  • Sering mendekat kepada orang-orang shalih, serta menjauhi dari orang-orang yang buruk kelakuannya karena takut melakukan ma’siyat.
  • Sering melihat perkara yang sedikit dari dunia dianggap banyak, kemudian mengambil dari perkara dunis sekedarnya saja (sesuai kebutuhan). Dan melihat amal akhirat yang banyak dianggap sedikit, kemudian berusaha menambah amalnya.
  • Melihat kepada hatinya yang disibukkan terhadap perkara yang di tanggung oleh Allah, artinya yang disanggupi oleh Allah dari berbagai macam keinginan. Serta hatinya sepi dari memikirkan perihal yang sudah dijanjikan (tanggung jawab) Allah bagi si ‘abdi.
  • Menjaga lidahnya. Rasulullah saw bersabda, “Yang paling dicintai macam-macam amal menurut Allah adalah menjaga lidah.” HR Imam Baihaqi. Kemudian Nabi saw juga bersabda, “Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bicara dalam perkara yang tidak ada manfaatnya.” HR Ibnu Nashar

Serta orang yang langgeng dalam tafakur kepada keagungan Allah, surga dan neraka Allah.

Rasulullah saw bersabda: Tafakur dalam keagungan Allah, dan dalam surga serta neraka Allah selama satu jam, itu lebih bagus daripada ibadah shalat sunah semalam.

Nabi saw juga bersabda: Kalian semua harus mentafakuri ciptaan Allah, dan jangan mentafakuri Dzat Allah karena kalian akan celaka.

Serta merasa menyesal dan bingung serta nelangsa terhadap perkara yang sudah dilakukan oleh si ‘abdi dari kemaksiyatannya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar