Bagaimanakah caranya agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta hati diterangi cahaya sempurna

Menurut Syeikh Wahab bin Munabbih rahimahullah, bahwa ditulis di dalam kitab Taurat beberapa nasihat, diantaranya adalah:

Siapa saja yang menginginkan surga (kebahagiaan di dunia dan di akhirat), maka dia harus dermawan atau sering memberi. Karena sebenar-benarnya orang yang sering memberi itu dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Keterangan yang diterima dari Siti Aisyah r.a bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Orang yang dermawan itu dekat dengan rahmat Allah, yang dekat dengan orang-orang, yang dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Dan orang yang pelit itu adalah yang jauh dari rahmat Allah, jauh dari orang-orang, jauh dari surga serta dekat dengan neraka. Dan orang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah daripada orang tukang ibadah tapi pelit.”

Diriwayatkan bahwa Sayidina Hasan dan Husain dan ‘Abdullah bin Ja’far berangkat naik haji. Di perjalanan mereka kehabisan bekal dan merasa lapar serta haus, lalu mereka melewati saung nenek-nenek yang disitu ada kambing. Mereka meminta kambing itu kepada si nenek, lalu si nenek memeras susu kambing lalu diberikannya kepada mereka untuk diminum. Setelah itu si nenek menyembelih kambing dan dagingnya diberikan kepada mereka juga.

Maka setelah jangka waktu tertentu Sayyidina Hasan melihat si nenek ada di Madinah dan dia mengenalinya, kemudian beliau memberikan 1000 kambing dan seribu dinar kepada si nenek, kemudian beliau mengantar si nenenk kepada saudaranya (Sayyidina Husain), lalu Sayyidina Husain memberi 1000 kambing dan 1000 dinar. Kemudian diantarkan pula kepada Ibn Ja’far, dan beliau memberi 2000 kambing dan 2000 dinar. Setelah itu si nenek pulang dengan membawa 4000 kambing dan 4000 dinar.

Siapa saja orang yang ingin hatinya diterangi dengan nur yang sempurna, maka dia harus tafakur dan mengambil i’tibar. Artinya mentafakuri keagungan Allah dan mengambil pelajaran dari adanya kematian.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar