Inilah Keutamaan Memberi Nasihat Kepada Orang Lain dan Tidak Mengikuti Keinginan Hawa Nafsu

Sebagian hukama ditanya tentang bagaimana tingkah dirinya, maka dia menjawab bahwa dirinya bersama Allah swt, artinya yang mengurus segala perkara dirinya, serta tetap melaksanakan segala perintah dari Allah.

Sedangkan tentang dirinya dengan nafsu, dia tetap menghindari atau tidak mengikuti segala hal yang diinginkan nafsu.

Dan tentang dirinya dengan makhluk (sesama manusia), dia tetap menasehati. Nasihat itu adalah mengajak kepada perkara yang ada kemaslahatan, dan melarang atau mencegah dari perkara yang mengandung keburukan (mafsadat).

Serta tentang dirinya dengan perkara dunia (kesenangan dunia) hanya sekedarnya saja (sekedar darurat). Artinya sekedar menutupi kebutuhannya saja, yang tidak bisa ditolak.

Para hukama merasa sangat yakin kepada Allah swt, mereka menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalam dirinya terhadap kekuasaan Allah, segala tingkah dan perbuatan dirinya semuanya hanya untuk Allah saja. Mereka selalu melaksanakan segala perkara yang diperintahkan oleh Allah, walau dalam keadaan apapun.

Mengikuti keinginan nafsu sering menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan. Oleh karena itu para hukama tidak mengikuti segala hal yang diinginkan nafsu. Mereka selalu menjaga dirinya dan waspada terhadap nafsu.

Para  hukama ketika berbaur, bergaul dengan sesama manusia sering memberikan nasihat yang bisa membawa manfaat kepada orang lain, serta selalu melarang terhadap kebatilan, atau melarang orang lain mengerjakan perkara yang bisa merusak.

Para hukama itu tidak terperdaya oleh dunia, mereka hanya memenuhi kebutuhan sekedarnya saja. Misalkan dalam hal makan, minum, pakaian, dan lain sebagainya, mereka tidak terlalu berlebihan dan hanya secukupnya saja.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar