Inilah Kisah Ulama Zuhud

Keterangan yang diterima dari Syeikh Syaqiq al Balkhi rahimahullah, beliau adalah gurunya Syeikh Hatim al Asham. Syeikh Syaqiq adalah anak orang kaya, beliau keluar dari negaranya dengan tujuan untuk berdagang ke negara Turki. Kemudian beliau masuk ke dalam rumah yang ada berhala, dan melihat ada penunggunya (kuncen) yang sudah mencukur kepala dan janggutnya.

Syeikh Syaqiq berkata kepada kuncen, “Sebenar-benarnya kamu memiliki Dzat yang menciptakan yang hidup, yang mengetahui dan Maha Kuasa, maka kamu harus ibadah kepada Allah dan jangan beribadah kepada berhala yang tidak bermanfaat dan tidak madharat.”

Lalu si kuncen menjawab, “Kalau terbukti perkara yang diucapkan olehmu, maka apabila Allah kuasa memberi rizki kepadamu di negaramu, kenapa kamu mau memikul kesulitan ke negara ini dengan berdagang (mencari rizki).” Maka kemudian Syeikh Syaqiq bangun (ingat) terhadap jalan zuhud dari perkara dunia.

Sudah terbukti sebab zuhudnya Syeikh Syaqiq, bahwa sebenar-benarnya beliau melihat seorang ‘abdi yang sedang bermain-main (berbahagia) pada zaman pailit, padahal orang-orang sedang bersedih dan prihatin karena pailit. Lalu Syeikh Syaqiq bertanya kepada si ‘abdi, “Kenapa kamu berbahagia, apakah kamu tidak melihat orang lain yang sedang prihatin karena pailit?”, lalu si ‘abdi menjawab, “Mengapa aku harus ikut prihatin disebabkan pailit, karena aku memiliki majikan yang mempunyai kampung, yang selamat dari pailit (paceklik), yang masuk ke majikanku dari kampung tersebut adalah perkara yang dibutuhkan olehku semua.”

Kemudian Syeikh Syaqiq ingat dan berkata, ”Apabila terbukti si mamluk (‘abdi) memiliki majikan yang mempunyai sebuah kampung, dan majikannya itu adalah makhluk yang faqir, terus si mamluk (‘abdi) tidak merasa bingung terhadap rizkinya. Maka kenapa harus bingung orang muslim terhadap urusan rizkinya, padahal Allah itu Maha Kaya.”

Apa Sajakah Perkara Yang Harus Diamalkan Selama Kita Hidup

Menurut Syeikh Syaqiq bahwa kita semua harus menjalankan lima perkara dan mengamalkannya.

  • Harus beribadah kepada Allah dengan mengukur kebutuhan kita semua kepada-Nya. Dan berupaya mendapatkan kebaikan dari Allah dan karunia-Nya.
  • Mengambil dari kesenangan dunia hanya sekedarnya (sekedar umur kita).
  • Silahkan saja kalian berbuat dosa kepada Allah, asalkan kuat dalam menahan siksa-Nya. Jadi tidak akan ada yang kuat menahan siksaan Allah satu orang pun.
  • Harus mengumpulkan bekal di dunia sebagai bahan untuk dibawa ke akhirat. Sebelum ke akhirat, terlebih dahulu ke alam kubur yang merupakan permulaan urusan akhirat. Apabila didalam kubur digampangkan, maka tentu saja dia akan digampangkan di tempat setelah kubur. Dan sebaliknya, apabila diberatkan di dalam kubur, maka akan diberatkan juga setelahnya.
  • Harus beramal supaya masuk ke surga. Artinya amal yang bisa menyampaikan kita ke surga, dan berharap kepangkatan (martabat) di surga. Karena sebenar-benarnya martabat di surga berbeda-beda, disebabkan menghitung amal-amalnya ahli surga. Apabila amal yan dilakukan lebih bagus, maka tentu saja pembalasannya juga akan lebih bagus.

Apa Sajakah Perkara Yang Bisa Menerangi

Menurut Syeikh Syaqiq, bahwa beliau sudah mencari lima perkara, maka dia menemukan lima perkara itu di dalam lima perkara yang lainnya.

  • Aku sudah mencari untuk meninggalkan macam-macam dosa, dan ternyata aku menemukannya pada shalat dhuha.
  • Sudah mencari terang di dalam kubur, dan ternyata ditemukan bahwa yang bisa meneranginya adalah shalat di malam hari.
  • Aku sudah mencari jawaban untuk soal dari Malaikat Munkar dan Nakir, aku menemukan jawabannya dalam membaca Al Qur’an.
  • Aku sudah mencari jalan untuk melewati jembatan jahanam, aku menemukannya di dalam puasa dan shadaqah.
  • Aku sudah mencari teduh-teduhan di arasy, aku menemukannya di dalam kesendirian (menyendiri).

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar