Keutamaan bermunajat, tho’at, dzikir kepada Allah

Syeikh Yahya bin Mu’adz ar Razi rahimahullah telah berkata dalam munajatnya, “YA Allah, tidak ada bagusnya waktu malam kecuali munajat kepada-Mu.”

Selain itu, tidak ada bagusnya waktu siang kecuali dengan melaksanakan tho’at kepada Allah, serta melaksanakan segala perintah-Nya. Serta tidak ada kebaikannya dunia, kecuali dengan dzikir kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sebenar-benarnya dunia itu di laknat, artinya perkara yang ada di dunia di laknat, kecuali dzikir kepada Allah, serta perkara yang menolong dzikir kepada-Nya, dan orang yang alim, dan orang yang belajar ilmu.” HR Imam Nasai dan Ibnu Majjah.

Tidak ada kebaikannya akhirat kecuali pengampunan dari Allah swt. Serta tidak ada kebaikannya (kebagusannya) surga, kecuali melihat Dzat Allah swt.

Riwayat Emas dan Perak Ketika Nabi Adam Diturunkan Ke Bumi

Rasulullah saw bersabda, “Ketika Allah menurunkan Nabi Adam dari surga ke bumi, maka merasa sedih semua perkara yang bertetangga dengan Nabi Adam kecuali emas dan perak. Kemudian memberi wahyu Allah kepada emas dan perak, ‘Aku Yang Agung sudah membuatmu berdua bertetangga kepada seorang ‘abdi dari sebagiannya ‘abdi, kemudian Aku menurunkan kepada ‘abdi tersebut dari ketetanggaan kalian berdua. Maka terus merasa nelangsa kepada si ‘abdi, tiap-tiap perkara yang bertetangga dengan si ‘abdi, kecuali kalian berdua.’ Kemudian emas dan perak berkata, ‘Ya Allah, panutan kami semua, Engkau adalah Yang Maha Mengetahui, sebenar-benarnya Engkau sudah menjadikan kami bertetangga dengan seorang ‘abdi (Nabi Adam), dan ‘abdi tersebut adalah yang nurut kepada-Mu. Maka ketika ‘abdi (Nabi Adam) melakukan ma’siyat kepada-Mu, maka aku tidak merasa nelangsa berpisah dengannya (Nabi Adam).’ Kemudian Allah swt memberikan wahyu kepada emas dan perak,’Demi Kegagahan dan Kemulyaan Aku Yang Agung, yakin Aku akan memulyakan kalian berdua sehingga tidak bisa dihasilkan tiap-tiap perkara kecuali dengan kalian berdua.’

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar