3 Ciri Ikhlas Dalam Beramal dan Keutamaan (Pentingnya) Niat

Allah swt telah berfirman dalam Al Qur’an surat al Bayyinah ayat 5, “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.”

Serta dalam surat al Hajj ayat 37, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan Allah), tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”

Ibnu Abbas ra telah mengatakan bahwa makna ayat di atas adalah, “Tetapi niatlah yang dapat mencapainya.”

Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya ama-amal itu dinilai sesuai dengan niatnya masing-masing, dan sesungguhnya tiap-tiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya kepada perkara dunia, niscaya ia memperolehnya. Atau kepada wanita, niscaya ia menikahinya. Hijrah seseorang itu ialah kepada apa yang diniatkan oleh hijrahnya.

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas ra, “Sesungguhnya seseorang hanya dipelihara (oleh Allah) sesuai dengan kadar niatnya.”

Sahabat yang lain mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu hanya diberi sesuai kadar niatnya masing-masing.

Bahkan ada sahabat yang mengatakan bahwa meninggalkan amal karena manusia disebut riya (pamer), dan amal karena manusia adalah syirik, serta ikhlas ialah bila Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.

Orang yang shadiq (benar) adalah orang yang tidak memperdulikan seandainya semua penghormatan untuk dirinya diungkapkan oleh semua makhluk, demi memelihara kalbunya (keihlasan niatnya). Ia tidak suka menampakkan amal baiknya kepada orang lain, walaupun hanya sbesar semut kecil, tetapi ia tidak benci bila ada orang lain yang menyaksikan amal buruknya.

Ikhlas itu hendaknya seorang hamba seimbang dalam semua perbuatannya, baik lahir maupun batinnya.

Hendaknya gerak dan diam seseorang serta lahir dan batinnya hanya semata-mata karena Allah swt, tanpa dicampuri dengan kehendak diri dan hawa nafsu serta tidak pula karena duniawi.

Ikhlas juga memelihara diri dari perhatian makhluk, sedangkan  ash-shidqu ialah membersihkan diri dari memperturutkan hawa nafsu. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak pamer (riya), dan orang yang shasiq ialah orang yang tidak mempunyai rasa ‘ujub.

Ada tiga macam ciri ikhlas, yaitu:

  1. Pujian dan celaan dari kalangan awam (terhadap orang yang bersangkutan) seimbang.
  2. Beramal tanpa pamrih.
  3. Mengharapkan pahala akhirat dalam amalnya.

Rasulullah saw bersabda, “Apabila aku perintahkan kalian melakukan sesuatu, maka kerjakanlah menurut kemampuan kalian.”

Dari hadist diatas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa apabila seseorang telah menerima sesuatu menyangkut keutamaan beramal, dianjurkan untuk mengamalkannya sekalipun hanya sekali, agar ia dimasukkan ke dalam ahlinya. Sebaiknya ia jangan meninggalkannya secara mutlak, bahkan dianjurkan mengerjakannya sesuai dengan kemampuannya.