Empat Perkara Yang Dilakukan Nabi Yahya (memerangi hawa nafsu, memerangi iblis, menjaga lidah, menahan amarah)

Keterangan yang diterima dari Syeikh Muhammad bin Ahmad rahimahullah, beliau menafsirkan firman Allah “wa sayyidan wa hasuudan”, maksudnya Nabi Yahya tidak menyukai dalam nikah wanita-wanita bukan karena apes, tetapi karena mencegah syahwatnya semata-mata.

Kemudian lafadh wa nabiyyan minas shaalihiin, Allah swt sudah menyebut kepada Sayyidina Yahya ‘alaihis salam “sayyidan”, padahal nabi Yahya itu ‘abdinya Allah swt. karena sebenar-benarnya nabi Yahya ‘alaihis salam itu terbukti dalam ghalib-ghalibnya (biasanya) tetap melaksanakan empat macam perkara, yaitu Perangilah Hawa Nafsu dan Iblis, Serta Jagalah Lidah dan Amarah.

Yang pertama adalah tetap memerangi hawa nafsu, yang kedua tetap memerangi iblis, yang ketiga adalah menjaga lidah, dan yang keempat adalah menahan amarah.

Setiap orang seharusnya bisa memerangi hawa nafsu, karena hawa nafsu itu akan mengakibatkan keburukan apabila kita mengikuti keinginannya. Banyak sekali orang yang terjerumus ke dalam kemaksiyatan dan kedurhakaan, karena mereka mengikuti keinginan hawa nafsunya.

Iblis tidak akan senang apabila manusia tidak mengikutinya, serta iblis juga tidak akan pernah puas dan tidak henti-hentinya menggoda manusia agar mengikuti keinginannya. Mereka berusaha sekuat tenaga membawa manusia ke neraka dan menemaninya di dalam neraka.

Ada peribahasa lidah itu tidak bertulang, ada juga yang mengatakan mulutmu harimaumu, banyak sekali sejarah yang mengungkapkan tentang peperangan yang awalnya disebabkan oleh lidah (perkataan). Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjaga lidah kita dari mengeluarkan perkataan yang tidak bermanfaat atau menyinggung perasaan orang lain.

Ketika kita sedang marah, kita dianjurkan agar berwudhu, karena diyakini bahwa wudhu itu dapat meredakan amarah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar