Bagaimanakah orang yang berakal dan bijaksana membagi waktunya

Diterangkan di dalam kitab Zabur, bahwa Allah swt sudah mewahyukan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam, sebenar-benarnya orang yang mempunyai akal adalah orang yang bijaksana. Artinya yang sempurna ilmunya itu tidak lepas dari empat macam jam (waktu), dimana orang itu membagi waktunya untuk mengerjakan amal-amal.

Yang pertama adalah waktu yang dipakai untuk munajat (ibadah) kepada Allah, dengan dzikir kepada-Nya, dengan membaca firman-Nya (Al Quran), serta berkata-kata atau mengakui tingkah lakunya di hadapan Allah.

Yang kedua adalah waktu yang dipakai untuk menghisab dirinya sendiri dalam waktu tersebut. misalnya menuliskan amal-amalnya, serta macam-macam geraknya dia pada waktu siang dan malam dalam kerta putih, lalu orang itu melihat tulisan tersebut pada akhir siang dan akhir malam. Kemudian orang itu bersyukur kepada Allah ketika melihat amal baik, dan ber istighfar dalam amal yang buruk.

Yang ketiga adalah waktu yang dipakai untuk berjalan kepada saudara-saudaranya, yaitu orang-orang yang memberitahukan macam-macam aib dirinya, dengan maksud dan tujuan agar dia kembali dari keaiban tersebut (merubah sikapnya).

Dan yang keempat adalah waktu untuk menyendiri bagi dirinya, diantara badannya orang itu serta diantara keenakan (kenikmatan) badannya yang halal.

Oleh karena itu, sebagai umat muslim khususnya dan umat manusia pada umumnya, kita harus mengetahui dan meyakini bahwa kita hidup di dunia ini tidak abadi, setiap perbuatan dan kelakuan kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar