apakah manfaat tafakur tentang ancaman dari Allah swt

“Tidak ada ibadah yang besar ganjarannya seperti tafakur.”

Berfikir-fikir tentang ancaman Allah untuk dipakai menyifati musuh-musuhnya, maksudnya akhlaq orang kafir. Serta berfikir-fikir dalam perkara yang sudah dikatakan Allah untuk orang kafir dalam hukuman dan keruksakan. Firman Allah swt: “Sebenar-benarnya orang yang berdosa itu tetap di neraka jahanam.”

Firman Allah: “Aku sudah menyiksa kepada semua musuh-Ku, disebabkan dosanya. Maka sebagiannya ada yang didatangi oleh Aku, dengan Aku yang mendatangkan penyakit cacar atau tha’un. Sebagiannya ada orang yang disiksa dengan geledek yang keras, dan sebagiannya lagi ada yang ditenggelamkan ke bumi, dan sebagiannya lagi ada yang di penjara oleh-Ku. Maka Allah tidak dhalim kepada orang-orang itu, tetapi mereka lah yang terbukti dhalim kepada dirinya.”

Berfikir-fikir tentang ancaman Allah, sering mendatangkan takut terhadap ma’siyat. Dan merasa takut akan dibenci Allah, dan sering mengagungkan Allah.

Tafakur terhadap gegabah dalam melakukan tho’at

Tafakur dalam gegabahnya diri dalam tho’at, maksudnya dalam ibadah kepada Allah. Dirinya menyadari bahwa walaupun melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, tetapi Allah terus-terusan membuat kebaikan.

Kita harus tafakur dalam gegabahnya diri dalam beribadah kepada Allah, padahal Allah terus-terusan membuat kebaikan. Allah berfirman: “Aku tidak semata-mata menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya beribadah kepada-Ku.”

Jadi, diciptakannya kita itu adalah untuk beribadah. Apabila manusia tidak ibadah atau beribadah tetapi gegabah (tidak hati-hati) berarti, berarti dia tidak menjalankan seperti yang seharusnya.

Allah swt berfirman: “Kalian semua jangan berprasangka bahwa sebenar-benarnya Aku kepada kalian bercanda, dan jangan berprasangka bahwa sebenar-benarnya kalian di kembalikan kepada-Ku.”

Berfikir-fikir tentang gegabahnya diri akan menimbulkan hidupnya hati, dan menambah ketakutan dan rasa malu, sehingga mendorong untuk mencela diri sendiri, serta akan menjauhkan diri dari gegabah, dan akan selalu siap melaksanakan perintah Allah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar