apakah faedah dari tafakur tentang kenikmatan dari Allah

“Tidak ada ibadah yang besar ganjarannya seperti tafakur.”

Berfikir-fikir (tafakur) tentang kenikmatan Allah, maksudnya yaitu kenikmatan yan sudah dilimpahkan kepada kita semua, dan pemberian-Nya yang sudah didatangkan kepada kita semua.

Allah swt berfirman: “Kalian semua harus mengingat-ingat kenikmatan Allah, supaya kalian semua berbahagia.”

Allah juga berfirman: “Apabila kalian menghitung-hitung kenikmatan-Ku, maka tidak akan bisa mengumpulkan terhadap kenikmatan tersebut, dan tidak akan terbilang.”

Kemudian Allah berfirman: “Perkara yang ada di kalian semua dari kenikmatan, maka itu hakikatnya adalah dari Allah.”

Berfikir-fikir tentang kenikmatan Allah bisa menimbulkan terhadap adanya mahabbah dan bersyukur. Buahnya tafakur ini adalah penuhnya hati dengan cinta kepada Allah, serta disibukkan dengan mensyukurinya lahir dan batin. Artinya hatinya manteng (kuat) kepada Allah, serta menyatakan bahwa kenikmatannya berasal dari Allah, dan lisannya mengucapkan pujian kepada Allah, jiwa raganya mengolah kenikmatan dalam jalan taqwa kepada Allah, seperti mencintai Allah dan ridha.

Tafakur terhadap janji Allah

Berfikir-fikir tentang janjinya Allah untuk amal-amal yang disifati oleh Allah terhadap kekasih-Nya. Tafakur terhadap perkara yang sudah dijanjikan Allah kepada semuanya. Seperti firman Allah: “Orang yang beriman disertai dengan amal shalih itu tidak sama dengan orang fasiq. “ Artinya orang fasiq itu ke neraka, dan orang yang beriman ke surga.

Allah swt berfirman: “Orang yang sudah memberikan hartanya sambil bertaqwa kepada Allah, dan percaya terhadap adanya surga (kenikmatan surga), maka akan digampangkan oleh Allah menuju jalan kebahagiaan.”

Allah juga berfirman: “Allah sudah menjanjikan kepada orang-orang beriman dari golongan kalian semua dan beramal shalih, oleh Allah akan dijadikan pemimpin di bumi (imamul muttaqin), seperti sudah menjadikan pemimpin kepada umat yang dahulu.”

“Sebenar-benarnya orang-orang yang bagus, tukang tho’at kepada Allah, akan menetap di surga.

Nah, berfikir-fikir terhadap perkara yang sudah dijanjikan oleh Allah dari berbagai kenikmatan, maka sering menimbulkan adanya suka terhadap akhirat. Artinya buahnya berfikir-fikir tersebut adalah bakal suka kepada orang-orang yang bahagia, serta mendorong untuk mengerjakan perbuatan seperti orang yang bahagia. Serta berakhlaq dengan akhlaqnya orang yang bahagia, maksudnya adalah sering menuruti orang yang bahagia.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar