Inilah bahaya atau akibat bila sibuk dengan syahwat dan mengumpulkan harta

Dari keterangan yang diterima dari sebagian ba’dhul hukama bahwa siapa saja orang yang disibukkan dengan syahwatnya, maka tidak boleh tidak dari merawat perempuan yang menjadi istrinya.

Dan siapa saja orang yang disibukkan dengan mengumpulkan harta, maka tidak boleh tidak dari barang haram, maksudnya menimpanya dari barang haram.

Dan siapa saja orang yang disibukkan dengan kemanfaatan kaum muslimin, maka tidak boleh tidak kepada orang tersebut sifat lemah lembut, artinya sopan santun kepada orang lain baik dalam omongan maupun dalam perbuatan.

Serta siapa saja orang yang disibukkan dengan ibadah, maka tidak boleh tidak kepada orang tersebut ilmunya, karena tidak sah ibadah kecuali mengetahui tentang tingkahnya ibadah (ibadah harus memakai ilmu).

Setiap orang seharusnya senantiasa menjaga dirinya dari perkara-perkara yang bisa melupakan dirinya dari Allah, atau lebih mengutamakan dunia daripada akhirat.

Banyak sekali hal atau perkara yang bisa menggoda manusia untuk lupa kepada Allah, misalnya syahwat atau harta benda.

Setiap orang pasti memiliki syahwat, tetapi kita harus bisa merawatnya atau mengeremnya. Jangan sampai kesibukan kita dalam mengikuti keinginan syhawat, menjadikan kita jauh dari Allah. Ketika kita sibuk dengan syahwat, maka kita akan sibuk dengan perempuan.

Begitupun juga dengan harta, kita harus sadar bahwa harta itu adalah titipan dari Allah, kita harus bisa menjaganya dan membawanya. Jangan sampai karena mengejar dan sibuk mengumpulkan harta, kita tidak menghiraukan halal dan haramnya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar