5 perkara yang membuat seseorang menjadi zuhud

Menurut ba’dhul hukama, bahwa zuhud itu ada lima macam perkara yang dipuji.

Yang pertama adalah mengandalkan Allah swt, serta suka terhadap orang-orang faqir. Seperti yang terdapat dalam diri Syeikh Abdullah bin al Mubarak, Syeikh Syaqiq al Balkhi, dan Syeikh Yusuf bin Asbath. Bergantung kepada (mengandalkan) Allah itumerupakan setengah dari ciri zuhud. Karena sebenar-benarnya tidak akan kuat si ‘abdi dalam zuhud, kecuali dengan percaya (mengandalkan) Allah swt.

Yang kedua adalah tidak berbaur dengan makhluk, yaitu seperti yang dikatakan oleh Syeikh Abu Sulaiman  ad Darani, “Zuhud itu adalah meninggalkan perkara yang bisa melupakan kita dari ingat kepada Allah”

Yang ketiga adalah ikhlas dalam beramal, seperti keterangan dari Syeikh Yahya bin Mu’adz, “Tidak sampai seseorang ke derajat zuhud, sehingga terbukti di dirinya ada tiga perkara, yang pertama adalah amal yang tidak berkaitan dengan apapun (ikhlas), yang kedua adalah ucapan dengan tidak ada thoma’, dan yang ketiga adalah kemulyaan dengan tidak sombong.”

Yang keempat adalah memikul perdhaliman, Rasulullah saw bersabda, “Zuhud dalam perkara dunia itu bukan berarti mengharamkan perkara yang sudah dihalalkan, dan bukan memubadzirkan harta. Tetapi zuhud dalam perkara dunia yaitu tidak bukti kamu terhadap perkara yang ada di tanganmu, itu lebih percaya daripada kamu terhadap perkara yang dalam kekayaan Allah. Dan bahwa terbukti kamu dalam ganjaran musibah, dimana-mana musibah itu menimpamu, itu lebih disukai daripada badanmu dalam musibah, kalau sebenar-benarnya musibah itu ditetapkan buat kamu.”

Dan yang kelima adalah Qana’ah terhadap perkara yang ada di tangannya, seperti yang dikatakan oleh Imam Junaidi, “Zuhud itu adalah tenang hati dari perkara yang kosong (tidak ada) di tangannya.” Berkata Sufyan ats Tsauri, “Zuhud dalam perkara dunia itu adalah memendekakkan cita-cita (lamunan), dan zuhud itu bukan dengan makan makanan yang kasar (tidak enak), dan bukan memakai pakaian yang jelek.”

Qana’ah itu merupakan setengah dari ciri zuhud, dan yang menjadi sebab mendorong terhadap zuhud. Orang yang sudah zuhud tidak merasa senang terhadap perkara yang sudah ada dalam perkara dunia, dan tidak terlalu memikirkan terhadap perkara yang belum ada.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar