Faktor apakah yang bisa membuat manusia bahagia menurut islam (qanaah dan meninggalkan syahwat)

Keterangan yang diterima dari Imam Hasan al Bashari Rahimahullah, bahwa sudah dituliskan dalam kitab Taurat lima pembicaraan.

Qana’ah

Yang pertama, sebenar-benarnya kaya adalah merasa cukup dengan nafkah adanya di dalam qana’ah. Artinya merasa ridha terhadap bagian dari Allah, dan merasa tenang apabila tidak adanya makanan.

Yang kedua, selamat dari bahayanya lisan ada di dalam ‘uzlah, maksudnya keluar dari bercampur dengan makhluk, disertai memutus pertalian dengan makhluk (mengasingkan diri).

Bahaya Syahwat

Yang ketiga, kemulyaan itu ada di dalam meninggalkan syahwat.

Yang keempat, sebenarnya berbahagia itu (kebahagiaan) ada pada hari yang panjang, artinya di akhirat (surga).

Dan yang kelima, sebenar-benarnya sabar dalam melaksanakan segala perintah Allah, serta nanggung dalam kesulitan, dan dalam menjauhi segala larangan Allah. Nah, hal tersebut tetap ada dalam hari yang sedikit, yaitu di dunia.

Seharusnya manusia itu harus merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, jangan sampai merasa kecewa, resah, dan gelisah, serta tidak puas dengan yang ada di dirinya. Yakinlah, bahwa rizki itu dari Allah dam dijamin oleh Allah. Setiap manusia pasti akan diberi rizki oleh Allah, tetapi mungkin besar kecilnya yang tidak sama.

‘Uzlah

Ketika kita merasa lingkungan yang kita tempati sudah tidak kondusif lagi, atau penuh dengan kemaksiyatan, maka kita dianjurkan untuk ‘uzlah atau mengasingkan diri. Hal ini dilakukan agar kita lebih tenang dalam beribadah, serta agar lebih dekat lagi dengan Allah, serta jauh dari pengaruh buruk lingkungan.

Syahwat itu sangat buruk sekali akibatnya apabila kita mengikutinya. Oleh karena itu, kita harus hati-hati terhadap syahwat.

Setiap manusia, khususnya umat muslim pasti menginginkan dirinya masuk surga. Oleh karena itu, selama di dunia kita harus berjuang untuk menggapainya, dan mempersiapkan bekal untuk di akhirat. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah di surga.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar