Inilah Ciri Orang Yang Hatinya Bahagia Menurut Rasulullah

Orang yang paling bahagia adalah orang yang memiliki hati yang terang (mengetahui), bahwa sebenar-benarnya Allah swt akan tetap menemani orang tersebut di tempat mana saja orang itu berada.

Serta memiliki badan yang sabar dalam melaksanakan macam-macam tho’at (perintah Allah), dan macam-macam kebaikan.

Dan juga qana’ah, merasa ridha terhadap perkara yang ada di dirinya dari pembagian Allah swt tentang rizki.

Juga merasa tenteram hatinya ketika tidak ada yang disayangi.

Allah swt adalah Sang Pencipta, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia sesungguhnya dekat dengan manusia, Dia akan ada dan menemani kita dalam keadaan apapun dan dimanapun kita berada. Oleh karena itu kita harus yakin bahwa setiap perbuatan kita pasti diketahui oleh Allah, tidak ada tempat bersembunyi bagi kita, walaupun jarak sangat jauh atau di tempat gelap sekalipun.

Ketika kita merasa bahwa Allah dekat dengan kita dan selalu mengawasi kita, maka kita akan takut melakukan perbuatan dosa, dan akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan ridha Allah swt. Apabila kita sudah bisa bersikap demikian, maka kita akan merasa bahagia.

Muslim itu harus kuat jiwa dan raganya, oleh karena itu islam menganjurkan kepada umatnya untuk belajar memanah dan menunggang kuda. Hal ini dimaksudkan agar badan umat muslim kuat, dan siap menegakkan agama.

Untuk melaksanakan perintah Allah, terkadang dibutuhkan badan yang kuat, misalnya ibadah haji, puasa, shalat, dan lain sebagainya. Bila badan kita sedang sakit, maka akan mengganggu aktivitas ibadah tersebut (ada keterbatasan dalam melaksanakannya).

Setiap manusia itu rizkinya sudah dijamin oleh Allah, jadi kita jangan merasa bingung dan waswas dalam perkara tersebut. Ketika kita mendapat rizki misalnya, maka kita harus merasa puas dengan hal itu (bagian yang ada), bahwa itulah bagian kita yang diberikan Allah. apabila kita bisa bersikap seperti ini, kita akan merasa tenang dan bahagia, karena merasa cukup dengan yang kita punyai.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar