Dalil atau ciri orang beriman agar tidak dikatakan bohong

Menurut Syeikh Hatim al Asham bahwa siapa saja yang mengaku terhadap empat dari macam-macam sifat tetapi tanpa empat macam dalil (ciri), maka pengakuannya tersebut bohong, sehingga pengakuannya tidak diterima. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama dalam sebuah syair: “Apabila kamu jago naik kuda, maka harus terbukti kamu seperti Sayyidina Ali, dan apabila kamu lihai dalam membuat syair, maka kamu harus seperti Ibnu Hani.”

Siapa saja yang mengaku terhadap perkara yang tidak ada di dirinya, maka pengakuannya itu tentu tidak akan diakui oleh orang lain (para saksi) ketika pengakuannya itu di uji.

Yang pertama adalah siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah tetapi tidak menghentikan perbuatan yang telah diharamkan Allah, maka pengakuannya itu bohong karena berani mendekati (mengerjakan) larangan Allah.

Yang kedua siapa saja orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah saw tetapi membenci orang fakir dan miskin, maka pengakuannya itu bohong. Karena orang fakir dan miskin adalah kesayangan Nabi saw.

Yang ketiga siapa saja yang mengaku cinta kepada surga tetapi tidak mau bershadaqah dengan perkara yang gampang, maka pengakuan orang tersebut bohong.

Yang keempat siapa saja yang mengaku takut terhadap neraka, tetapi tdak menghentikan berbuat dosa, maka pengakuannya bohong.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw bersabda: “Sudah dihalangi neraka dengan macam-macam syahwat, dan sudah dihalangi surga dengan dengan macam-macam hal yang tidak disukai.” Hadist ini merupakan sebagian dari kumpulan perkataan Nabi Muhammad saw dalam mencela syahwat.

Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan disampaikan manusia ke surga kecuali dengan diberi macam-macam kesulitan. Dan tidak akan disampaikan (dimasukkan) manusia ke neraka kecuali dengan melakukan (mengikuti) syahwat nafsu.”

Jadi, siapa saja orang yang mendobrak penghalang, maka tentu saja dia akan masuk.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar