Larangan Menyakiti Orang Lain, Mengikuti Ajakan Setan dan Mencintai Dunia

Diriwayatkan ada seorang laki-laki keturunan Bani Israil yang sudah mengumpulkan delapan puluh peti ilmu, sedangkan tingkahnya atau keadaan si lelaki itu tidak mengambil manfaat dari ilmunya tersebut.

Kemudian Allah swt memberi wahyu kepada nabinya kau Bani Israil ‘alaihis salam, “Katakanlah olehmu kepada lelaki itu yang mengumpulkan macam-macam kitab ilmu, bahwa kalau dia mengumpulkan sebanyak-banyaknya dari ilmu, maka itu tidak ada manfaatnya kepadanya, kecuali dia mengamalkan dengan tiga macam perkara.

Yang pertama adalah kamu tidak menyukai dunia, maksudnya kesenangan dunia dan keindahannya. Karena dunia itu bukan tempatnya orang-orang mukmin, artinya dunia itu bukan tempat pembalasannya orang mukmin, sebenar-benarnya tempat pembalasan atau ganjaran orang mukmin adalah surga.

Yang kedua kamu jangan menemani setan, kamu jangan menuruti perintah dan ajakan setan, dengan mengingkari perintah Allah dan rasul-Nya. Karena setan itu bukan teman orang-orang mukmin, maksudnya adalah karena setan itu bukan untuk teman orang mukmin.

Dan yang ketiga adalah kamu jangan menyakiti orang lain atau ‘abdinya Allah. karena menyakiti orang lain itu bukanlah pekerjaan orang mukmin.

Janganlah kita terlena oleh kesenangan dan keindahan dunia, tetapi kita harus ingat bahwa kesenangan dan kebahagiaan yang abadi itu adanya di akhirat (surga). Oleh karena itu sebagai kaum muslimin, kita harus senantiasa sadar dan berjuang dengan sekuat tenaga agar ketika hidup di alam dunia mendapat ridha dari Allah swt.

Setan tidak akan puas sebelum manusia mengikuti ajakan dan perintahnya, sehingga di neraka dia ada temannya. Kita semua harus berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap semua tipu daya setan.

Kita juga dilarang untuk menyakiti sesama kaum muslimin (orang lain), karena perbuatan tersebut bukanlah perbuatan orang mukmin. Malahan kita harus selalu memberikan kebaikan kepada orang lain, bukannya menyakiti hati dan perasaannya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar