Larangan Makan dan Tidur Berlebihan Serta Bicara Yang Tidak Bermanfaat

Keterangan yang diterima dari Syeikh Ibrahim an Nakha’i radiyallaahu ‘anhu:

“Pastinya rusak celaka orang-orang yang sudah rusak sebelum kamu semua, dari umat-umat dahulu disebabkan tiga perkara.

Yang pertama adalah berlebihan dalam omongannya, yaitu omongan yang tidak ada kebaikannya baik itu dalam bidang agama maupun dunia.

Yang kedua adalah disebabkan kelebihan makan, yaitu makanan yang tidak perlu untuk orang itu dalam menjalankan urusan agama.

Dan yang ketiga disebabkan oleh tidur yang berlebihan, yaitu tidur yang tidak bermanfaat bagi orang tersebut dalam menjalankan perintah agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan selalu bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, baik itu anak, istri, anak, orang tua, teman dan sahabat, rekan kerja, dan lain sebagainya. Ketika berinteraksi dengan mereka, kita akan selalu berbicara dan menggunakan lisan kita. Nah, biasanya karena faktor kedekatan kita dengan mereka membuat perkataan kita kadang tidak terkendali, artinya mengeluarkan perkataan yang tidak bermanfaat, misalkan mengejek, menghina, atau bercanda yang keterlaluan.

Setiap manusia pasti memerlukan makan dalam hidupnya, hal ini dimaksudkan dan bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya. Tetapi dalam melakukannya kita jangan terlalu berlebihan, karena akan berdampak buruk bagi badan kita. Kita dianjurkan untuk berhenti sebelum kenyang ketika makan.

Bila makan kita berlebihan, bisa mengakibatkan kita mengantuk, sehingga membuat kita malas untuk melaksanakan ibadah.

Banyak sekali orang yang tidur secara berlebihan, hal ini menunjukkan kemalasan orang tersebut. Seharusnya kita mencontoh orang-orang shalih, yang tidurnya hanya sekedarnya saja dan seperlunya. Mereka lebih mementingkan ibadah daripada tidur, ketika orang lain sedang tidur lelap di malam hari, orang-orang shalih bangun untuk melaksanakan shalat tahajud dan berdzikir.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar