4 Golongan Manusia Menurut Syeikh Abdul Qadir Jailani

Keterangan yang diterima dari Syeikh Hamid al Lafaaf rahimahullaah, beliau pernah didatangi seorang lelaki yang berkata kepadanya,”Semoga engkau berkenan berwasiat kepadaku, dengan perkara yang bermanfaat bagiku dalam bidang agama!”

Kemudian Syeikh Hamid berkata,”Kamu harus takut untuk agamamu terhadap kantung, seperti kantung Quran. Kantung disini adalah perkara yang menjaga quran dari kotor.”

Lalu Syeikh Hamid ditanya lagi,”Apa kantung agama?”

Syari’at dilihat dari jihat, sebenar-benarnya syari’at itu sering di turut maka dinamakan syari’at dengan din. Dan dilihat dari jihat sebenar-benarnya syari’at itu dikumpulkan maka sering disebut millah. Dan dilihat dari jihat sebenar-benarnya syari’at itu sering dipakai kembalinya (tempat kembali) maka disebut madzhab.

Syeikh Hamid berkata kepada si lelaki,”Kantung agama adalah meninggalkan bicara (ngomong) kecuali terhadap perkara yang mesti harus dibicarakannya (diomongkan). Dan perkara yang harus diomongkan adalah perkara yang tidak bisa hasil, yang dimaksud dari urusan-urusan dunia kecuali dengan perkara.”

Tidak Boleh Bergaul Dengan Orang Yang Berperilaku Buruk dan Berbicara Hanya Yang Baik

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata,”Tatkala bukti omongan dari perak, maka bukti diam itu emas.” Maknanya adalah, tatkala bukti bicara dalam kebaikan seperti perak dalam bagusnya, maka bukti diamnya dari bicara keburukan adalah seperti emas, dalam sama bagusnya. Dan diam dalam perkara haq, itu seperti yang bicara dalam perkara batal.

“Yang kedua adalah meninggalkan perkara dunia, maksudnya macam-macam kesenangan dunia kecuali perkara yang tidak boleh tidak dari perkara tersebut. yaitu perkara yang tidak bisa hasil  kebutuhan kecuali dengan perkara itu.”

“Yang ketiga adalah meninggalkan mencampuri orang-orang (bergaul), kecuali terhadap perkara yang tidak boleh tidak dari perkara itu, yaitu perkara yang tidak bisa hasil yang di maksud kecuali dengan perkara tersebut.”

Macam-Macam Orang Menurut Syeikh Abdul Qadir Jailani

Orang-orang terbagi ke dalam empat bagian, seperti keterangan dari Syeikh ‘Abdul Qadir Jailani:

  • Laki-laki yang tidak ada lidahnya dan hatinya, nah laki-laki ini adalah yang melakukan ma’siyat, yang tercela dan yang bodoh. Maka kita harus takut menjadi orang dari golongan ini, dan berdiam menjadi golongan ini, karena sebenar-benarnya orang-orang ini akan menjadi siksaan.
  • Laki-laki yang memiliki lisan tapi tidak mempunyai hati. Maka dia sering bicara dengan hikmah (ilmu), tetapi tidak mengamalkannya. Dan dia sering mengajak orang lain untuk beribadah kepada Allah, padahal dia sering kabur dari Allah. Oleh karena itu, kita harus menjauh dari golongan ini, supaya tidak terbujuk rayuan omongannya. Golongan ini menjadi sebab kita terbakar oleh api ma’siyat nya orang itu, dan menjadi sebab membunuh kita baunya hati orang itu.
  • Laki-laki yang memiliki hati tetapi tidak mempunyai lidah. Nah, orang ini adalah mu’min yang sudah ditutupi oleh Allah dari makhluk-makhluk-Nya. Dan Allah sudah memperlihatkan kepada orang itu aib-aib dirinya. Allah sudah menerangi hati orang tersebut, serta memberi tahu kerusakan atau keburukan bercampur (bergaul) dengan orang-orang dan keburukannya bicara. Orang ini adalah waliyullaah yang dijaga di dalam tutup Allah swt. maka tiap-tiap kebaikan (semua kebaikan) tetap di orang ini. Kita harus bergaul dengan golongan ini, dan menjadi khadam (pembantu) golongan ini, maka Allah akan mencintai kita.
  • Lelaki yang belajar ilmu dan mengajari ilmu serta mengamalkan ilmunya, sambil orang ini tahu kepada Allah swt dan ayat-ayatnya Allah, yang sudah dititipkan oleh Allah kepada hatinya orang tersebut, terhadap macam-macam keanehan ilmunya Allah. dan Allah melapangkan dadanya orang golongan ini untuk menerima ilmu. Maka kita harus takut untuk mengingkari golongan ini, takut untuk menjauhinya.

Asal Pokoknya Jihad

Kita harus mengetahui bahwa sebenar-benarnya asal pokoknya jihad adalah menjauhi macam-macam yang diharamkan, baik itu yang kecil maupun yang besar, karena orang yang tidak ada wara’ (apik) maka tidak sah zuhudnya orang tersebut.

Kemudian kita harus melaksanakan macam-macam perkara fardhu, baik itu yang gampang maupun yang susah. Karena orang yang tidak ada taubat tidak sah inabahnya (kembalinya). Taubat itu adalah menjalankan semua haq-haq Allah, dan inabah adalah mengeluarkan hati dari macam-macam syubhat.

Kita juga harus meninggalkan dunia kepada ahlinya dunia, yang sedikit maupun yang banyak. Karena orang yang tidak qana’ah tidak sah tawakalnya, dan apabila tidak ada tawakal berarti tidak sah pasrahnya (taslimnya). Tawakal adalah hatinya percaya terhadap perkara yang ada di Allah, dan terputus dari perkara yang ada di tangan manusia. Yang disebut taslim adalah tunduk dan nurut terhadap perintah Allah swt, dan memalingkan diri dari perkara yang tidak pantas.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar