Inilah Keutamaan Shalat Berjamaah di Mesjid dan Memberi Makan Orang Lapar

Menurut Rasulullah saw: “Ada tiga golongan manusia yang akan diberi peneduh oleh Allah swt, dibawah teduh-teduhan (peneduh) ‘arasy Allah swt, pada hari dimana tidak ada peneduh kecuali ‘peneduh ‘arasy Allah (hari kiamat).

Yang pertama adalah orang yang mengerjakan wudhu pada waktu masyaqat (darurat), repot, atau ketika udara sangat dingin sekali.

Yang kedua adalah orang yang berjalan ke mesjid ketika sedang gelap, untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Memberi makanan kepada orang yang lapar.

Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan, tetapi banyak sekali orang yang hanya menginginkan kebahagiaan dunia. Mereka hanya mempedulikan urusan dunianya saja, tidak memikirkan urusan akhirat. Mereka berusaha semaksimal mungkin agar segala keinginannya tercapai, dengan cara apapun dan tidak mempedulikan akibatnya bagi orang lain. Mereka berprinsip yang penting dirinya saja, tidak peduli kepada yang lain.

Nah kebahagiaan itu adalah semu, kebahagiaan yang terlihat indah dari luar saja, padahal di dalamnya tidak.

Seharusnya kita lebih mengutamakan kebahagiaan akhirat, karena apabila yang ini kita kejar maka kebahagiaan dunia pasti akan kita dapatkan.

Dari penjelasan diatas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pertolongan Allah itu akan datang kepada orang-orang yang melakukan tiga hal tersebut.

Ketika keadaan kita sedang darurat, misalkan dikarenakan sakit, cuaca sedang dingin sekali, atau sedang repot, tetapi kita tetap melakukan wudhu. Nah, ini sangat dianjurkan sekali oleh agama islam, karena sebagai salah satu cara untuk mendapatkan pertolongan Allah.

Selain itu kita dianjurkan juga untuk melaksanakan shalat berjamaah di mesjid, walaupun dalam keadaan apapun, misalnya sedang gelap.

Kemudian kita juga dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang lapar, karena hal ini juga bisa menjadi cara untuk mendapatkan perlindungan Allah. Orang yang sedang lapar, pasti sangat membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya, tetapi karena keterbatasannya akhirnya dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu dia membutuhkan pertolongan orang lain.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar