Bagaimana Sikap Muslim Ketika Mendapat Nikmat Dari Allah

Sebenar-benarnya manusia itu dalam masalah mensyukuri kepada Allah swt dan kepada sesama manusia ada tiga tingkah. Yang pertama adalah yang ghaflah, yang sangat dalam keghaflahannya, serta kuat dalam lingkungan panca inderanya, tegasnya penuh dengan perasaan dhahir, serta kosong kema’rifatannya kepada Allah. Terus melihat dalam adanya kebaikan itu datang dari makhluk, sambil tidak menyatakan bahwa hakikatnya kebaikan itu datangnya dari Allah. Begitu juga dengan tekadnya, maka itu musyriknya dhahir. Atau dalam sandarannya (patokannya), maka dalam kemusyrikannya itu samar.

Disini akan dijelaskan tingkahnya manusia dalam hal ketauhidannya ketika mendapatkan kenikmatan. Nah, itu ada tiga bagian, yang pertama adalah orang yang ghaflah, dan parah keghaflahannya, yang diliputi oleh alam hisi nya. Artinya sangat memperhatikan alam dhahir, serta buta terhadap kema’rifatan kepada Allah. sehingga menyatakan bahwa adanya kebaikan itu munculnya dari makhluk, dan tidak menyatakan bahwa kebaikan itu datangnya dari Allah.

Apakah dari tekadnya yang menyatakan adanya pemberian itu dari makhluk, bukan dari Allah swt. Maka orang seperti ini adalah musyrik, malah dengan musyrik yang sangat jelas.

Atau juga dari patokannya, artinya berpatokan atau bersandar kepada makhluk yang memberi kebaikannya, sedangkan Allah swt tidak dilirik-lirik. Nah orang seperti ini juga sudah musyrik.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh lima)