Sikap Kita Dalam Mensyukuri Nikmat Allah

Dan yang keduanya adalah yang mempunyai hakikat, yaitu yang hilang dari makhluk (tidak melihat ke makhluk), disebabkan menyaksikan bahwa Allah lah yang lebih haq. Sebab rusak dari melihat sebab disebabkan menyaksikan dzat yang mengadakan sebab. Maka itu shahibul haqiiqati adalah seorang ‘abdi yang dihadapkan kepada hakikat. Serta dhahir bagi shahibul haqiiqati cahaya dan berusaha mencapai wushul kepada Allah, dan sampai ke puncaknya hakikat, tetapi masih tenggelam dalam lautan cahayanya, serta dibutakan dari melihat tapak ciptaan Allah swt.

Disini akan dijelaskan tentang golongan keduanya, yaitu golongan shahibul haqiiqati. Dan yang dimaksud dengan hakikat adalah menyaksikannya cahaya Allah dalam dhahirnya makhluk. Dan menyaksikan cahaya kekuasaan Allah dari berubahnya ‘abdi.

Nah shahibul haqiiqati ini yang menyatakan terhadap adanya dzat Allah swt, dari sebab melihat kepada dzat Allah swt. Artinya dimana-mana melihat mata terhadap suatu perkara, maka terbersit di mata hatinya melihat dzat Allah swt yang sudah menciptakannya.

Kemudian lupa dari ingat terhadap macam-macam sebab, disebabkan melihat dzat Allah swt yang mengadakan sebabnya.

Nah orang yang seperti ini adalah ‘abdinya Allah swt yang menghadap terhadap hakikatnya yang dhahir cahaya hakikatnya. Orang ini juga yang berusaha ke jalan thariqah, serta sampai ke puncaknya. Tetapi keadaannya tenggelam dalam cahaya, sehingga tidak melihat kepada tapaknya ciptaan Allah swt.

Maka banyak kurang ingatnya, serta menutupi kumpulnya terhadap perpisahannya, dan sudah menutup kerusakannya terhadap ketetapannya. Tegasnya dengan banyaknya menyaksikan dzat Allah, sehingga ingatannya masih sering rusak, artinya lupa dari makhluknya, disebabkan melihat dzat Allah swt daripada ingat kepada makhluk. Dan juga sering ghaibnya, tegasnya ada hubungan dengan makhluk daripada bersatu dengan makhluk.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh enam)