Tempat atau Sangkarnya Hati Ahli Ma’rifat

Tidak henti-hentinya kekuatan tujuannya menuju Allah swt, tidak berhenti dari tempatnya serta langgeng keberangkatannya. Sampai berhenti di hadhratul qudsiyyah dan di tempat mufatahah, muwajahah, mujalasah, muhadatsah, musyahadah, muthala’ah. Nah hadhratul qudsiyyah dijadikan sangkar hati, yaitu pada pindah (mengungsi) ke hadhratul qudsiyyah, dan diam didalamnya.

Disini akan dijelaskan tentang keberangkatan orang yang menuju Allah swt. Nah mereka terus-terusan saja berangkatnya dan tujuannya kuat sekali, tidak berhenti dari tempatnya, langgeng dalam berangkatnya sampai ke wushul ke hadhratul qudsiyyah, yang menjadi tempat tertimpanya hati.

Yaitu tempat mufatahah, maksudnya terbukanya alam ghaib. Maka kita terbuka untuk mendatangkan permintaan, serta Allah membukakan penutup (tutup-tutup) yang ada di diri kita. Dan juga tempat muwajahah.

Kita menghadap ketika wushul ilaa hadhratil qudsiyyah, dengan cahaya-cahaya menghadap Allah swt, dan Allah swt menghadap ke kita dengan membukakan hijab dan membukakan pintu menghadap kepada-Nya, kita menghadap dengan tho’at, Allah menghadap dengan mahabbah dan di tempat mujalasah, yaitu mujalasatul adabi wal haibati. Maka kita duduk menghadap kepada-Nya, dibarengi dengan adab dan malu.

Maka Allah swt menemani kita dengan mendekatkan kita, kita duduk dengan muraqabah maka Allah menemani dengan menjaga kita.

Dan juga di tempat muhadatsah, yaitu mukallamatul qalbiyyah (ngobrolnya hati), yaitu tafakur dalam keagungannya alam jabarut. Maka kita berkata-kata di dalam hati kepada Allah dengan munajat dan meminta-minta. Sehingga Allah menghendaki atau menambah ganjaran dan pemberian-Nya.

Serta di tempat musyahadah, yaitu kasyqul hijab, artinya tempat terbukanya hijab, maka kita musyahadah kepada-Nya dalam alam malakut. Maka Allah swt musyahadah kepada kita di alam malakut, dan kita musyahadah terhadap sifat kekuasaannya Allah swt, dan Allah musyahadah terhadap sifat ke’abdian kita.

Juga tempat muthala’ah, maksudnya muthala’atu asraril mulki wal malakuti waljabaruti. Maka kita menguatkan hati dengan menghadap Allah, maka Allah melihat kita dengan menaikkan pangkat.

Nah hadhratul qudsiyyah menjadi tempat atau sangkarnya hati ahli ma’rifat.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh satu)