Siapakah Orang Yang Hina Dan Yang Mulia Dihadapan Allah

Alangkah hinanya orang-orang yang keadaannya tidak mempunyai pekerjaan. Tidak menghadap Allah swt padahal sedikit rintangannya, dan tidak berangkat menuju kepada-Nya.

Sedangkan orang yang mendapatkan penghormatan, yang sangat mulia itu adalah orang yang bisa menghadap Allah swt, walaupun banyak pekerjaan yang harus dihadapi/dikerjakan. Kemudian berangkat menuju Allah swt walaupun banyak rintangan.

Maka perjuangan bagi kita untuk mencetak orang yang mulya harus berangkat menuju ridha Allah, mempersiapkan diri yang dibarengi dengan niat yang bersih. Firman Allah: “infiruu khifaafan watsiqaalan”, “harus berangkat kalian, apakah dalam keadaan ringan ataupun berat”, artinya apakah ada rintangan ataupun tidak ada rintangan.

Dengan adanya kita berangkat setelah mempersiapkan diri, terus menghadap menuju ridha Allah swt, maka Allah akan memberikan taufiq, maksudnya memberi kebaikan agar sampai atau berhasil dan tercapai apa yang dicita-citakan.

Contoh kejadian yang hina yaitu orang yang punya akal, dan tidak mempunyai kewajiban yang harus dilakukan, lalu dia tidak berangkat mencari ilmu, akhirnya dia serba tidak tahu, serba bodoh, dan tidak mempunyai pangkat. Nah ini hinanya lama, di dunia dan di akhirat.

Di dunianya hina, dan di akhiratnya disediakan siksa neraka, sebab tidak bisa melaksanakan yang diperintahkan oleh Allah. Berkata Abu Qosim Al Qusysairi “kosongnya di dalam hati dari perkara yang menyibukkan adalah suatu kenikmatan yang besar, maka seharusnya harus disyukuri , dan dipake untuk takqa kepada Allah. Sehingga kenikmatannya jadi bertambah. Maka kalau kekosongan itu dipakai melaksanakan dan menuruti hawa nafsu, itu berarti keluar dari mensyukurinya, dan kufur nikmat, akhirnya akan timbul segala kehinaan”.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus lima puluh)