Seperti Apakah Keadaan Hati (Rohani) Yang Lapang dan Sempit

Di bawah ini akan dijelaskan tingkahnya jasad dan roh nya manusia.

Jasadnya manusia itu sejenis dengan keadaan alam yang terlihat. Maka adanya jasad kita di tengah-tengah alam itu bisa lega (lapang), sedangkan kalau ruhani tidak akan bisa lega dengan alam, sebab alam itu (benda-benda yang terlihat) tidak sejenis dengan rohani.

Leganya rohani itu ketika di tengah-tengah lapangan ghaib, yaitu ketika rohani penuh dengan iman (keimanan) kepada Allah swt dan mengenal sifat-sifat-Nya, terhadap perkara-perkara yang akan terjadi pada hari kiamat, serta iman kepada malaikat.

Siapa saja orang yang penuh dengan kelegaan dan ma’rifat kepada Allah, tidak akan merasa sulit (bingung) walaupun ditindihi oleh bumi. Sehingga ahli ma’rifat berkata: “kalau merasa ada di dalam hati, maka itu merasa tidak akan menjadikan bingung kalau rohaninya merasa lega dengan adanya ma’rifat kepada Allah.”

Jadi dalam masalah jasadnya manusia, sulit dan leganya itu tergantung dari alam asbah, yaitu macam-macam benda yang berbentuk. Sedangkan lega (lapang) dan sulitnya rohani itu tergantung dari perkara yang ghaib. Maka ketika rohani sedang penuh dengan kebingungan dan keprihatinan, tidak akan bisa lega walaupun keadaan bumi lega. Seperti firman Allah: “wadhaa qat ‘alaihil ardhu bimaa rahubat”. Maksudnya buminya hanya sekedar sulit di dalam hatinya, walaupun keadaannya lega.

Oleh karena itu Ahmad bin Hadhrawaih ketika ditanya: “amal apa yang lebih utama?”, maka dia menjawab: “harus menjaga hati, jangan sampai condong menghadap ke perkara selain Allah swt.”

Dan sudah berkata Abi ‘Abdillah bin Al Halabi; “siapa saja orang yang hasratnya dan tujuannya melebihi benda-benda yang terlihat, yaitu seperti hasrat ingin mendapatkan kenikmatan yang ‘laa ‘ainun ra at’ walaa udzunun sami’at’, maka pasti orang tersebut bisa ma’rifat kepada Allah swt. Dana kalau hasratnya hanya sekedar ingin menghasilkan benda-benda yang terlihat bentuknya, itu masih jauh dari sampai kepada Allah swt, sebab hatinya terhalang oleh gambar-gambar.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tiga puluh enam)