Jadikanlah Akhirat Lebih Utama Daripada Dunia

Keterangan yang diterima oleh Yahya bin Mu’adz rhadiyallaahu ‘anhu, bahwa tidak maksiyat kepada Allah orang yang mulya, maksudnya yang terpuji perbuatannya. Yaitu orang yang menghormat kepada dirinya dengan takwa kepada Allah, dan menjaga dari kemaksiyatan, tidak memilih keduniawian, tidak mendahulukan dan mengutamakan dunia serta mengakhirkan akhirat. Orang yang teguh pendiriannya, yaitu orang yang benar dalam perbuatannya, yaitu orang yang sering mencegah terhadap nafsunya dari membohongi (tidak sesuai) dengan akalnya.

Intinya adalah orang yang teguh pendiriannya adalah orang yang tidak mendahulukan dunia dan mengakhirkan akhirat. Dan orang yang teguh adalah orang yang sering mengikuti petunjuk akal yang ajeg (benar).

Dari keterangan yang diterima oleh A’masy (Sulaiman bin Mahran) dari Kufah, bahwa siapa saja orang yang pokok hartanya takwa kepada Allah, maka akan cape lisannya dalam mensifati keuntungan agamanya. Dan siapa saja orang yang bukti pokok hartanya dalah dunia, maka cape lisannya dalam mensifati kerugian agamanya.

Artinya adalah siapa saja orang yang menjalankan takwa, dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya (kemaksiyatan), maka itu sama halnya dengan memberi pondasi terhadap tiap-tiap perbuatan dengan yang muwafaqah terhadap syara’. Maka tetap bagi orang tersebut kebaikan yang banyak yang tidak bisa terhitung (terbilang).

Dan siapa saja orang yang menjalankan perbuatan yang bertentangan dengan syara’, maka akan tetap bagi orang tersebut macam-macam keburukan yang banyak.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar