Keutamaan Mencari ilmu dan Larangan Berbuat Maksiyat

Keterangan yang diterima oleh Sayyidina Ali radhiyallaahu ‘anhu wakarramallaahu wajhahu, bahwa siapa saja orang yang bukti (terbukti) tetap dalam mencari ilmu, maka bukti surga didalam pencariannya (seolah-olah sedang mencari surga). Dan siapa saja orang yang terbukti dalam mencari kemaksiyatan, maka bukti api neraka dalam pencariannya (seolah-olah sedang mencari api neraka).

Siapa saja orang yang disibukkan untuk mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang harus diketahui oleh orang baligh dan berakal, maka orang itu pada hakikatnya sedang mencari surga dan keridhaan Allah. Dan siapa saja orang yang bermaksud mencari kemaksiyatan, maka orang itu pada hakikatnya sedang mencari api neraka dan kebencian Allah.

Janganlah kita menjadi orang yang sering menyia-nyiakan waktu, karena waktu itu seperti pedang, dia tidak akan kembali walau sedetik pun. Kita termasuk ke dalam orang yang rugi kalau tidak bisa memanfaatkan waktu, atau dengan kata lain mengisi waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat.

Ada pepatah yang mengatakan “carila ilmu walau sampai ke negeri China”, atau tentang wajibnya mencari ilmu sampai ajal menjemput. Hal ini menunjukkan tentang pentingnya mencari ilmu walau kemanapun dan sampai kapanpun. Mencari ilmu yang wajib itu adalah mencari ilmu agama. Ilmu itu sangat bermanfaat sekali bagi manusia di dalam menjalani hidup. Kita jadi tahu mana yang benar menurut Allah dan mana yang tidak benar. Mana yang diperbolehkan oleh kita dan mana yang tidak boleh, kita juga akhirnya memiliki pedoman dalam beraktivitas  sehari-hari.

Kita jangan mencari-cari atau berusaha berbuat kemaksiyatan, karena hal ini akan buruk sekali akibatnya. Selain akibatnya di dunia, juga di akhirat akan dibalas atau diganjar dengan neraka.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar