Mengapa Harus Berprasangka Baik (Husnudzan) Kepada Allah

Ilaahii kaifa akhiibu wa anta amalii am kaifa ahaanu wa’alaika.

Kita harus ber husnudhan dibarengi dengan berharap-harap yang sangat, karena melihat janjinya Allah: “Sebenar-benarnya orang yang mujahadah, berjuang dengan menghiasi diri dam membersihkan diri menuju Allah, oleh Allah swt bakal ditunjukkan kepada jalan yang pasti berhasilnya.”

Kita harus ber tawakal kepada Allah swt, “Siapa saja orang yang bertawakal kepada Allah, maka Allah yang akan memenuhi kebutuhannya”.

Ilaahii kaifa asta’izzu wa anta fidz dzillati arkaztanii am kaifa laa asta’izzu wailaika nasabtanii am kaifa laa aftaqiru.

Kita harus pasrah kepada Allah swt, kita harus menyatakan bahwa diri kita adalah ‘abdi Allah, ditempatkan di tempat yang hina. Maka seolah-olah buat apa meminta keagungan, sebab sudah ditempatkan di tempat yang hina. Tetapi kita harus berharap kepada-Nya, seperti firman-Nya: “Yaa ‘ibaadii yaa au liyaaa i”

Kemudian kita harus menyatakan kefakiran, maksudnya bagaimana tidak akan butuh manusia kepada Allah, karena Allah sudah menempatkan manusia dalam kefakiran. Tetapi untuk apa kita butuh kepada selain Allah, padahal Allah sudah menjadikan kita kaya. Maksudnya kalau dari makhluk dengan adanya sudah dijadikan kaya oleh Allah, maka kita tidak butuh. Sesuai dengan doanya: “Allaahumma aghninii bihalaalika ‘an haramika wa aghninii ‘amman siwatika”, ingin dijadikan kaya oleh Allah, sehingga tidak butuh meminta kepada selain Allah.