Sikap Manusia Ketika Mendapatkan Kenikmatan Dari Allah

Orang-orang ketika sedang kedatangan kenikmatan ada tiga golongan. Yang pertama yang bahagia dengan mendapatkan kenikmatan bukan dari jihat/pihak yang memberinya dan yang mendatangkannya (tidak ingat kepada yang memberinya). Tetapi bahagianya itu karena bertemu dengan kenikmatan, terus berbahagia sambil lupa kepada Allah. Nah orang yang seperti ini termasuk kedalam golongan orang yang ghaflah.

Seperti yang difirmankan Allah swt: “hattaa idza farihuu bimaa uutuu akhadznaa hum baghtatan”, sehingga ketika berbahagia dengan bahagia yang salah disebabkan sudah diberi nikmat. Maka Allah Yang Agung mendatangkan siksa kepada kaum kafir dengan mendadak datangnya.

Golongan kedua adalah orang yang bahagia dengan nikmat, bahwa orang ini menyaksikan kenikmatan dan bertekad terhadap kenikmatan tersebut adalah pemberian dari Allah swt hakikatnya. Nah ini seperti firman Allah swt: “qul bifadhlillaahi wabirahmatihi fabidzaalika falyafrahuu huwa mimmaa yajma’uuna”, beritahulah olehmu Muhammad dengan fadhal Allah dan dengan rahmat Allah: berbahagialah orang-orang, disebabkan datang fadhal dari Allah. Nah ini lebih bagus daripada harta yang dikumpulkan.

Golongan yang ketiga adalah orang yang merasa bahagia oleh Allah, maka tidak disibukkan oleh dhahirnya kenikmatan dan oleh batinnya kenikmatan. Tetapi disibukkan (tertutup) oleh musyahadah kepada Allah swt yang memberinya. Sehingga lupa dari yang lainnya, terus hatinya manteng (kuat) kepada Allah swt, tidak terhalang oleh makhluk. Maka tidak musyahadah kecuali kepada Allah saja, yaitu seperti firman Allah swt: “qulillaahu tsumma dzar hum fii haudhihim yal’abuuna”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tujuh puluh)