Nikmatnya Hati Ketika Merasa Dekat Dengan Allah

Sudah berkata Imam Syibli bahwa apabila kita merasa nikmat dengan wushul (sampai kepada maqam hadhratil qudsiyyah), artinya dekatnya diri kepada Allah dengan mantengnya (kuatnya) hati, maka kita akan tahu tentang pahitnya putus dari Allah swt.

Maksudnya adalah jauh dari Allah, hati tidak tuma’ninah dan tidak manteng (kuat) kepada Allah. Nah, perasaan ini serasa jadi siksaan yang besar bagi ahli ma’rifat.

Dan bukti dari sebagiannya doa Nabi Muhammad saw: Allahummar zuqnii ladzdzatan nadhri ilaa wajhikal kariimi wassyauqa ilaa liqaaa ika. Ya Allah, semoga Engkau memberi rizki kepadaku terhadap nikmatnya melihat dzat Allah yang Maha Mulia. Dan rindu ingin diberi suka terhadap bertemu dengan Engkau, sambil merahmati kepadaku.”

Imam Syibli merupakan seorang ahli ma’rifat, sehingga beliau hatinya merasa nyaman, merasa bahagia ketika dekat dengan Allah.

Ketika ahli ma’rifat hatinya merasa tidak dekat dengan Allah, jauh dari Allah, maka hal ini merupakan sebuah siksaan bagi dirinya.

Ahli ma’rifat selalu mengisi hari-harinya, mengisi hidupnya dengan hal-hal yang bermanfaat, yang berfaidah dan berguna bagi dirinya di dunia dan di akhirat.

Ahli ma’rifat tidak berlebihan dalam keduniawian, dia hanya membutuhkan dunia sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja, misalkan makan dan minum hanya sekedarnya saja, pakaian tidak berlebihan (mewah), dan lain-lain.

Ahli ma’rifat selalu melaksanakan segala perintah Allah swt, menjauhi larangan-Nya, selalu mencontoh atau meneladani Rasulullah saw, keluarga dan para sahabat.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar