Munajat Ahli Ma’rifat Kepada Allah Yang Menguasai Seluruh Alam

Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Dia sudah memberi ilham tentang semua perkara untuk mengenal Allah swt, sehingga tidak ada suatu perkara kecuali tahu kepada-Nya.

Allah swt adalah penguasa, tetapi ada yang menyatakannya dengan lahir dan batin. Seperti muslimin ada yang menyatakan dengan batin saja.

Allah swt sudah mengenalkan kepada ahli ma’rifat  dalam semua perkara. Sehingga mereka melihat dengan mata hatinya kepada Allah swt dalam semua perkara. Sehingga tidak semata-mata melihat ke alam ciptaan Allah, kecuali langsung melihat kepada penciptanya, yaitu Allah swt. Maka Allah yang dhahir(nyata) untuk semua perkara. Maka di dalam hadist diterangkan: “Allaahumma antal awwalu falaisa qablahu syaiun fa antal aakhiru falaisa ba’dahu syaiun fa antadh dhaahiru qablahu syaiun”

 

Yaa manistawaa birahmaa niyyatihi ‘alaa ‘arsyihii fashar ‘arsyu ghaiban fii rahmaa niyyatihi kamaa shaaratil ‘awalimu ghaiban fii ‘arsyihi mahaqtal atsaara bil atsaari wa mahautal aghyaara bimuhiithaati aflaakil anwaari.

Kita harus bermunajat kepada Allah swt dengan mengikuti sifat, bahwa Allah swt itu yang membawahi ‘arasy, sehingga ‘arasy itu ada di tengah-tengah rahman nya Allah swt, seolah-olah ghaib. Seperti terbukti semua alam, bumi dan langit disimpan di ‘arasy, saking besarnya ‘arasy. Maka alam seolah-olah tidak ada. Seperti kelereng yang bertebaran di rumah.

Seluruh alam seolah-olah tidak ada  kalau dibandingkan dengan besarnya ‘arasy. Dan begitu juga seolah-olah arasy tidak ada bila dibandingkan dengan besarnya cahaya rahmannya Allah. Atau seperti lentera didekati lampu patromak, maka cahaya lentera seolah-olah tidak ada. Begitu juga lampu patromak dibandingkan dengan cahaya matahari, maka cahaya lampu patromak seolah-olah tidak ada.