Perkara Yang Bisa Menjadikan Hati Gelap dan Terang (Berfikir Dunia dan Akhirat)

Keterangan yang diterima oleh Sayyidina Ustman ra, menjelaskan bahwa bingung oleh urusan dunia merupakan kegelapan di dalam hati. Dan kalau bingung dalam urusan akhirat, itu merupakan cahaya di dalam hati. Artinya adalah prihatin dari urusan-urusan yang bertalian dengan keduniawian akan menjadikan gelap di dalam hati. Dan kalau prihatin yang berkaitan dengan urusan akhirat, akan menerangi hati.

Allaahumma laa taj’aliddunyaa akbara hamminaa walaa mablagha ‘ilminaa. Ya Allah, semoga Engkau tidak menjadikan keduniawian itu jadi bingung (kebingungan) terbesar bagiku, dan semoga Engkau tidak menjadikan dunia itu jadi ilmu terakhir aku.

Jadi kita tidak boleh menjadikan urusan dunia sebagai urusan yang paling utama. Kadang kita sering mengalami kesulitan atau bingung dalam menghadapi hidup disebabkan tidak mempunyai uang, anak sekolah tidak memiliki biaya, istri atau orang tua mengalami sakit, kehilangan pekerjaan, perdagangan yang tidak menguntungkan, dan lain sebagainya. Hal ini sering menjadikan kita putus asa dan sulit untuk menghadapinya.

Perkara atau kejadian seperti ini tidak boleh membuat kita kehilangan arah, artinya melupakan kita dari Allah swt. Kita harus yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan kita, sehingga kalau kita mempunyai prinsip seperti ini, kita akan tenang dalam menghadapinya.

Kita juga harus yakin bahwa dengan adanya cobaan atau musibah, itu berarti Allah akan meninggikan atau menaikkan derajat kita. Seperti halnya anak sekolah yang akan naik ke kelas selanjutnya, dia akan mengikuti ujian terlebih dahulu. Atau juga seseorang yang akan naik jabatan di tempat kerjanya, dia akan melalui beberapa test terlebih dahulu.

Seharusnya kita prihatin dan merasa sedih ketika kita tidak bisa istiqamah dalam beribadah kepada Allah, kita harus merasa iri terhadap orang-orang yang bisa istiqamah dalam beribadah. Kita harus merasa sedih apabila dalam beramal selalu timbul perasaan riya dan ‘ujub, serta takabur di diri kita.

Perbuatan-perbuatan baik atau amal-amal baik yang selama ini belum kita lakukan, atau sudah kita lakukan tetapi masih banyak kekurangan, perbuatan-perbuatan buruk yang masih kita lakukan. Nah, hal ini harus bisa di tafakuri oleh kita, harus diperbaiki, agar kita menjadi manusia yang lebih baik, dan agar Allah swt ridha kepada kita.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar