Kita Harus Lebih Mengutamakan Urusan Akhirat Daripada Urusan Dunia

Di bawah ini akan dijelaskan tentang sebagian dari kenikmatan dunia yang sempurna, yaitu termasuk ke dalam kenikmatan yang sempurna. Dengan memberinya Allah kepada manusia perkara yang mencukupi.

Nabi Muhammad saw sering meminta kepada Allah agar dijauhkan dari kefakiran, yang bisa mengakibatkan lupa kepada-Nya, dan dari kekayaan yang dapat menjadikan madharat atau menjadikan manusia jauh dari Allah. Sehingga Nabi Muhammad bersabda: “khairudz dzikril khafi wa khairur rizki maa yakfi”.

Kalau kita diberi rizki yang bisa melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah swt, intinya memiliki harta untuk ibadah kepada-Nya, atau untuk menyekolahkan anak di pesantren, atau ingin membangun sarana agama, serta tidak ada lebihan untuk berma’siyat kepada Allah. Maka hal ini harus disyukuri dengan sebenar-benarnya, sebab yakin nikmatnya sempurna.

Dalam berdoa kita harus menginginkan harta yang bisa mencukupi segala kebutuhan yang sedang dihadapi. Misalnya bagi santri agar berdoa supaya memiliki harta untuk bekal ibadah, ingin diberi kekayaan hati  yang bisa membawa ketenangan hati ketika dirinya sedang di pesantren. Dan ketika kembali dari pesantren perlu membangun macam-macam pembangunan agama (menyebarkan ilmunya). Dirinya tidak perlu menginginkan harta yang banyak yang menjadi lebihannya, sebab biasanya juga membawa keburukan.

Memiliki harapan mempunyai harta yang banyak yang biasanya membawa madharat, yaitu seperti yang difirmankan Allah swt di dalam Al Qur’an: “Kallaa innal insaana layatghaa an ra aa hus taghnaa”, sering membawa keburukan karena merasa dirinya memiliki kelebihan. Malahan banyak orang yang tidak sampai kepada tujuannya yang utama, disebabkan ditengah-tengahnya memiliki kelebihan, terus melihat dirinya kaya, berbeda dari orang lain, orang lain memuji-muji, sehingga akhirnya tidak mau meneruskan tujuannya yang utama.

Kita semua diperintahkan oleh Allah swt agar lebih mementingkan urusan akhirat, oleh perkara yang sudah diberikan oleh-Nya. Kemudian kita semua menjalankan terhadap haq/keharusan/kewajiban dalam urusan dunia.

Jadi dunia dan akhirat dua-duanya harus diurus, tetapi urusan akhirat harus lebih diutamakan. Dan yang dimaksud kaya adalah kaya hati, bukan kaya harta.

“Kekayaan itu bukan dari banyaknya harta, tetapi orang yang tenteram hatinya, bisa bertakwa kepada Allah walaupun dirinya tidak memiliki harta.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus lima belas)