Kebahagiaan dan Kedamaian Ketika Sedang Shalat

Ma’rifatnya para wali itu tidak sama dengan ma’rifatnya Nabi Muhammad saw. Maka bahagianya para wali juga ketika musyahadah tidak akan sama seperti bahagianya Nabi saw. Dan kebahagiaan Nabi saw yang sangat, yaitu ketika sedang shalat.

Imam Ahmad bin Muhammad bin ‘athaillah berkata ketika ditanya tentang sabda Nabi Muhammad saw: “waju’ilat qurratu ‘ainii fisshalaati”, dijadikan bahagia aku ketika sedang shalat. Dan artinya qurratul ‘aini (dingin mata) adalah isyarat dari bahagianya yang sangat dan merasa nikmat.

Ketika Nabi Saw berkata: “waju’ilat ghaayatu farahii wasuruurii fisshalaati”, dijadikan puncak bahagianya aku ketika sedang shalat. Yaitu disebabkan musyahadah kepada Allah pada waktu shalat.

Kemudian timbul pertanyaan: “Apakah bahagianya yang sangat ketika sedang shalat itu khusus untuk Nabi Muhammad saja? Atau dengan yang lainnya juga umat Nabi saw ada yang merasa bahagia ketika sedang shalat?” maka menjawab Ibnu ‘Athoillah: “sebenar-benarnya bahagia yang sangat itu dengan menyaksikan (musyahadah menetap dengan ukuran ma’rifat kepada dzat Allah swt yang disaksikannya. Maka Nabi saw itu ma’rifatnya tidak seperti ma’rifat yang lainnya, oleh karena itu bahagianya juga tidak akan sama dengan bahagia yang lainnya. Intinya yang lainnya tidak akan merasa bahagia seperti bahagianya Nabi saw. Sebab tidak sama ma’rifatnya dengan Rasul saw.

Sebenar-benarnya bahagia yang sangat di dalam shalat itu disebabkan musyahadah terhadap keagungan Allah swt. Sebab Nabi saw sudah bersabda dan isyarah terhadap adanya musyahadah kepada Allah dengan ucapan fisshalaati, tidak berkata dengan lafadh bisshalaati. Sebab Nabi saw tidak merasakan bahagia yang sangat (luar biasa) oleh selain musyahadah kepada Allah.

Maka bagaimana Nabi saw menunjukkan kepangkatan ini, serta memerintahkan kepada pangkat ini kepada orang yang lainnya. Beliau bersabda: “Kamu harus ibadah seperti keadaan kamu melihat Allah swt”, padahal mustahil melihat Allah. Serta menyaksikan bersama Nabi saw orang yang lainnya. Maka kalau ada orang yang bilang terkadang bukti kebahagiaannya Nabi saw disebabkan shalat, sebab shalat itu adalah fadhal dari Allah dan dhahir dari Allah swt. Maka bagaimana tidak bahagia dengan shalat tersebut, dan bagaimana tidak akan menjadi kebahagiaan dengan shalat, dan bagaimana tidak ada kebahagiaan disebabkan shalat itu.

Allah swt sudah berfirman: “qul bifadhlillaahi wabirahmatihi fabidzaalika falyafrahuu”, Beritahulah oleh kamu Muhammad dengan fadhal dari Allah dan rahmat dari Allah, orang-orang harus merasa senang”.

Perlu diketahui bahwa sebenar-benarnya ayat diatas sudah memberi isyarah bagi jawaban untuk orang-orang yang berfikir-fikir terhadap rahasianya khithab, karena Allah berfirman fabidzaalika falyafrahuu, tidak berfirman fabidzaalika fafrah yaa Muhammad, tegasnya maka kamu harus berucap kepada orang-orang yaitu haru merasa berbahagia. Disebabkan mendapat kebaikan dari Allah swt dan karunia-Nya.

Maka harus bukti kebahagiaan kita itu dengan dzat Allah yang memberi fadhalnya. Seperti firman Allah: “qulillaahu tsumma dzarhum fii haudhihim yal’abuuna”, ucapkan olehmu bahwa Allah lah yang memberi fadhal, seterusnya biarkanlah mereka orang ahli ma’rifat sedang berbahagia bermain di tamannya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh sembilan)