Sikap Muslim Ketika Mendapatkan Kebahagiaan dan Kesulitan

Harus sedikit perkara yang membahagiakan kita, maka akan sedikit perkara yang akan menjadikan kita prihatin.

Di bawah ini akan dijelaskan satu patokan, bahwa apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan selamanya, maka kita jangan mengamalkan suatu perkara yang bisa membuat kita prihatin. Sebab tidak adanya jadi banyak keprihatinan dan kebimbangan, itu dari banyaknya perkara yang membahagiakan.

Maka bagi kita semua yang masih hidup di alam dunia, dalam menghadapi kesenangan atau kebahagiaan, harus bisa mempersiapkan menghadapi kebingungan (kesulitan), yaitu supaya kesulitannya itu tidak jadi. Mempersiapkan rasa tawakal kepada Allah, yang dipenuhi dengan ridha terhadap segala ketentuan Allah swt.

Jadi kalau kita ingin banyak mendapatkan ketenangan, maka kita jangan memperbanyak perkara yang membuat kita prihatin.

Dan ketika mendapatkan kebahagiaan, kita harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kebingungan. Insya Allah kalau dipersiapkan, kebingungannya itu tidak akan membahayakan.

Kita bukannya tidak boleh bahagia, tetapi dimana sedang bahagia harus bisa menghilangkan kebingungan.

Contohnya orang yang makan, nah dia sedang bertemu dengan kesenangan. Maka harus hati-hati jangan sampai terlalu banyak makannya, karena akan buruk akibatnya (terlalu kenyang), dan harus difikirkan dimana dia nanti buang air besarnya. Jangan terus saja makan sambil tidak ingat nantinya akan terlalu kenyang, apalagi tidak ada toilet untuk buang airnya. Nah itu kan datang prihatin setelah adanya senang, sebab tidak difikir dulu akibatnya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam belas)