Jalan Yang Ditempuh Ahli Ma’rifat Agar Bisa Ma’rifat

Jalannya ahli ma’rifat naik menuju ma’rifat adalah dengan mentafakuri dari jejak ciptaan Allah, terus menunjukkan terhadap adanya kekuasaan Allah dan ketentuan-Nya, dan adanya ilmu, kemudian sampai ke ma’rifat, kepada kesempurnaan dzat Allah.

‘Abdinya Allah yang diberi keistimewaan oleh-Nya, yaitu para wali dengan sifat-sifat kewaliannya. Nah dalam perjalanannya ada dua rupa, yaitu yang diawali dengan majdzub, terus balik lagi ke suluk. Dan ada yang di awali dengan suluk terus sampai ke majdzub, kemudian sembuh lagi.

Dalam kejadiannya ahlil jadzbi diawali dengan dibukakannya penglihatannya terhadap kesempurnaan dzat Allah swt, dengan akhirat. Sehingga rusak akalnya disebabkan melihat cahaya dzat Allah. Sehingga ingkar dengan adanya syari’at. Kemudian seterusnya akan dibalikkan (dikembalikan) dari melihat dzat Allah kepada melihat macam-macam sifat-Nya, dengan adanya terlihat sifat-sifatnya Allah, tersu dibalikkin lagi.

Maka dimana-mana melihat sifat-sifatnya Allah, terus melekat terhadap nama Allah yang lazim dari sifat-Nya tersebut, lalu dibalikkin ke menyaksikan ciptaan Allah, kemudian ingat lagi kepada keadaan dirinya sebagai ‘abdinya Allah.

Sedangkan kalau ahli suluk menetap dalam keadaan sebaliknya, yaitu mulai berdalil dari sebab wujudnya ciptaan Allah terhadap wujudnya asma’ Allah swt, terus naik dari wujud asma’ nya Allah kepada wujud sifat-sifatnya Allah. Dan dari wujud sifatnya Allah menunjukkan wujudnya dzat Allah yang sempurna.

Maka awalnya ahlil jadzbi adalah akhirnya ahli suluk, dan awalnya ahli suluk adalah akhirnya ahlil jadzbi. Tetapi tidak sama dalam maknanya, maksudnya ahlil jadzbi turun, sedangkan ahli suluk naik. Contohnya seperti dua orang yang berjalan di tanjakan, itu terkadang bertemu di tengah-tengah, yang seorang sedang turun dan seorang lagi sedang naik.

Perlu diketahui bahwa orang yang sedang berjuang kepada kema’rifatan itu ada empat bagian:

  1. Yaitu orang-orang ahli suluk saja, tidak sampai ke majdzub. Ahli suluk saja itu tidak pantas jadi murabbi dan jadi mursyid, sebab itu mengatur dhahirnya saja, belum ada cahaya di dalam batinnya yang menjadikan majdzub.
  2. Ada yang majdzub saja, ini juga tidak pantas untuk menjadi mursyid dan jadi murabbi.
  3. Ada yang majdzub terus jadi ahli suluk.
  4. Ada yang awalnya ahli suluk, terus majdzub.

Apabila yang menjadi ahli suluk terus bertemu dengan majdzub, maka ini pantas jadi murabbi. Begitu juga dengan yang majdzub terus jadi ahli suluk, ini juga pantas jadi murabbi dan jadi mursyid, atau jadi ahlit tarbiyyati wal irsyadi.

Hakikatnya suluk itu yang masih memikirkan keadaan makhluk yang belum sampai ke khaliq. Sedangkan yang disebut majdzub itu sudah melihat ke khaliqnya sambil tidak melirik ke makhluk-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh)