Hukum Meminta Balasan/Upah Dari Allah Atas Amal Yang Sudah Kita Lakukan

Di bawah ini akan dijelaskan tentang bodohnya orang yang meminta upah/balasan dari Allah swt. Karena merasa dirinya sudah bisa melaksanakan tho’at, seperti sudah melaksanakan shalat, padahal hakikatnya dirinya bisa shalat itu merupakan pemberian dari Allah. Awalnya oleh Allah diberi petunjuk ingin shalat, terus diberi kekuatan untuk melaksanakannya.

Orang yang bisa melaksanakan shalat ingin diberi upah dengan rizki yang banyak, adalah seperti anak kecil yang disuruh mandi, terus dia dimandikan oleh orangtuanya sampai bersih, lalu dibedakin dan dibajuin. Kemudian si anak itu minta upah/balasan karena sudah mandi, padahal itu untuk kepentingan dirinya sendiri (si anak), supaya nyaman dan bersih. Sedangkan orangtuanya sudah membuat kebaikan terhadap anaknya, maka bagi anak yang berfikir, dia akan merasa tidak pantas meminta balasan/upah dari orangtuanya. Dan bagi anak yang bodoh memang sering meminta upah dari orangtuanya.

Tingkahnya manusia itu ada yang jujur di hadapan Allah dan ada yang tidak jujur. Orang yang tidak jujur sering meminta balasan kalau dia sudah bisa melaksanakan tho’at (amal). Sedangkan orang yang jujur, dengan bisa beramal dia merasa senang serta bersyukur kepada Allah swt, karena Dia sudah menjadikan dirinya bisa beramal shalih, dan dia menganggap itu adalah hadiah buat dirinya. Malahan merasa bahagia kalau amal diterima, sehingga tidak meminta balasan, sebab merasa malu.

Nah orang yang bodoh, yang sering meminta balasan dari Allah. Ini juga sudah ada kebaikan, lebih bagus daripada meminta ke setan, atau tidak kenal sama sekali dengan Allah.

Jadi sepantasnya orang yang meminta upah/balasan itu seharusnya adalah yang sudah bekerja, dan pekerjannya itu menguntungkan yang menyuruhnya. Seperti kita disuruh mencangkul, maka itu ada manfaatnya untuk yang menyuruhnya, dan yang mencangkul pasti akan meminta upah.

Sedangkan amal ibadah yang dilakukan oleh ‘abdi-Nya tidak jadi manfaat bagi Allah, dzat yang menyuruhnya. Karena manfaatnya amal itu adalah buat kita sendiri, maka tidak pantas meminta upah kepada Allah. Apalagi kalau kita ingat bahwa sebenarnya amal perbuatan yang shalih itu merupakan hadiah dari Allah. Seharusnya kita berterima kasih kepada Allah, bukan meminta balasan.

Dan juga kalau kita bisa beramal dengan jujur dan ikhlas, maka dengan keikhlasannya tidak pantas meminta balasan kepada Allah karena sudah jujur. Sebab bisa jujur itu hakikatnya adalah hadiah dari Allah kepada kita, Allah menjadikan kita bisa jujur.

Ada ulama yang mengatakan bahwa meminta upah (balasan) dari Allah karena bisa tho’at, itu muncul dari lupa terhadap kebaikannya Allah.

Abul ‘Abbas bin ‘Atha’ berkata: “Perkara paling dekat yang dibenci Allah yaitu sudah ‘ujub, memperlihatkan diri bisa beramal. Biasanya sering dipuji dan kemanja. Dan yang lebih lagi adalah meminta balasan kepada Allah karena dirinya bisa beramal.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh tiga)