Hikmahnya Kita Tidak Disukai Atau Dijauhi Oleh Orang Lain

Hikmahnya Allah menjadikan adanya sakit (kesakitan), atau Allah menjadikan orang lain menyakiti kita, yaitu agar kita semua tidak bergantung kepada manusia.

Banyak sekali orang yang tadinya menyukai dan mencintai kita, tetapi sekarang jadi membenci atau menyakiti kita. Nah hal tersebut disengaja oleh Allah, supaya kita semua tidak bergantung kepada manusia. Dan tidak menggantungkan hati kepada perkara yang melupakan Allah swt.

Jadi dimana kita diputus oleh Allah dari orang-orang yang disukai, itu disengaja oleh-Nya. Dengan tujuan agar kita cepat-cepat kembali menghadap kepada Allah, jangan terganggu dengan rasa cinta terhadap yang lainnya. Sehingga hati kita banyak bergantung kepada Allah swt.

Menurut Abul Hasani As Syadzili bahwa kita sebenar-benarnya harus lari menjauhi dari kebaikan oang lain, sebab kebaikan/kebagusan orang lain itu langsung membahayakan terhadap hati kita. Intinya sering menghalangi kita dari menggantungkan hati kepada Allah, sebab dipakai untuk memikirkan kebagusan (kebaikan) orang lain.

Selain itu apabila ada musuh yang bisa membawa kita mendekatkan diri kepada Allah, itu lebih bagus daripada teman yang mengganggu kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Ada ulama (Imam Abdus Salam) yang berkata di dalam doanya: “Ya Allah, sebenarnya ada orang yang berdoa kepada-Mu menginginkan supaya masyarakat mencintainya, lalu oleh Engkau dikabulkan, sehigga orang itu merasa senang. Tetapi aku menginginkan agar orang-orang jauh dariku, sehingga aku tidak berlindung selain kepada-Mu.” Jadi beliau berdoa agar orang-orang dijauhkan dari dirinya, supaya tidak mengganggu hatinya.

Jadi bagi kita semua apabila sewaktu-waktu orang lain tidak menyukai kita, maka itu artinya Allah swt akan membukakan kepada kita bahwa kita harus mengagungkan atau mengutamakan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja orang yang membuat kebaikan kepada kita dengan memberi hadiah, maka kita harus cepat-cepat membalas kebaikannya. Yaitu dengan membuat kebaikan lagi, supaya kita tidak mempunyai hutang budi kepada orang lain”. Kalau tidak demikian, dikhawatirkan kita memikirkan kebaikannya orang lain yang bisa menghalangi kepada Allah swt.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus dua puluh lima)