Hikmah dan Tujuan Dari Memerangi Hawa Nafsu

Di bawah ini akan dijelaskan berangkatnya orang ahli suluk menuju Allah swt. Nah berangkatnya menuju Allah adalah musyahadah memerangi hawa nafsu.

Maksudnya adalah menyingkirkan segala rintangan dan adat kebiasaan yang buruk, yang ada di dalam hati, yang menghalangi dari sampainya kepada Allah swt.

Maka hatinya orang yang menuju Allah swt itu tidak akan bisa bercahaya, kecuali setelah mengalahkan hawa nafsunya.

Termasuk kedalam nikmat yang begitu besar, ketika kita sudah terbebas dari tipu daya hawa nafsu. Di dalam kitab hidayatul azkia, Imam Zainudin berkata seperti ini: “Orang yang diam di suatu thariqat, sambil awalnya tidak dibarengi dengan mujahadatin nafsi, itu (dia) tidak akan ketemu (menemui) dengan thariqatnya. Begitu juga ingin ma’rifat kepada Allah swt, yang lebih tingi pangkatnya, dengan ma’rifat yang tentu (pasti).”

Musyahadah biasanya kalau tanpa mujahadah tidak akan sampai.

Yang disebut mujahadatun nafsi adalah membersihkan diri dari kotoran hawa nafsu, dan juga menghiasi dengan keutamaan seperti cahaya.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa sebenar-benarnya Allah swt membuat lapangan untuk memerangi hawa nafsu, yaitu untuk berangkatnya orang-orang menuju kepada-Nya. Maksudnya berangkat memerangi hawa nafsu. Kalau bisa mengalahkan hawa nafsu, tentu hatinya akan bercahaya, terus bisa musyahadah kepada Allah.

Dan kenapa berangkat menuju Allah itu dengan memerangi hawa nafsu, karena tidak ada jarak antara kita dengan Allah yang bisa ditempuh dengan kendaraan. Dan tidak ada putus antara kita dengan Allah yang bisa ditemui oleh manusia.

Imam Hatimul Asham berkata: “siapa saja orang yang akan masuk ke dalam golonganku, maka harus bisa membunuh hawa nafsu empat kali. 1) mati yang merah yaitu dengan menahan hawa nafsu. 2) mati yang hitam yaitu harus sabar dan tabah dalam menghadapi gangguan orang yang mengganggu. 3) mati yang putih yaitu nahan lapar. 4) mati yang hijau yaitu harus berani memakai pakaian yang jelek, menjauhi pakaian yang bisa membawa ke takabur.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tiga puluh empat)