Inilah Hakikat Orang Yang Tawadhu

Bukan dari hakikatnya orang yang tawadhu, orang-orang yang melakukan tawadhu, terus melihat ke dirinya bahwa sebenar-benarnya dirinya itu tawadhu di atas orang lain. Tapi yang disebut hakikatnya tawadhu adalah orang yang melakukan tawadhu, terus melihat ke dirinya bahwa sebenarnya dia belum bisa tawadhu.

Orang yang memiliki sifat tawadhu itu adalah bukan orang yang ketika dirinya melakukan tawadhu, dia merasa dirinya sudah tawadhu dan merasa diri di atas orang lain. Tetapi hakikatnya orang tawadhu itu adalah dimana dia melakukan tawadhu, dia merasa dirinya belum bisa tawadhu dan merasa dirinya tidak memiliki pangkat tawadhu.

Sehingga ada ulama yang berkata: “siapa saja orang yang merasa dirinya berharga, merasa memiliki pangkat yang luhur, maka itu berarti dia tidak memiliki sifat tawadhu.” Na’uudzubillaahi min dzalika.

Kesimpulannya adalah kita semua jangan sampai merasa diri kita itu di atas orang lain, atau merasa diri kita bisa tawadhu. Karena hal ini bisa menjerumuskan manusia kepada sifat takabur. Sedangkan takabur itu adalah sifat yang sangat buruk dan tidak disukai oleh Allah swt, serta bisa merusak hati dan sikap kita.

Kita harus bisa tawadhu dalam menjalani hidup ini dan dalam setiap langkah yang kita lakukan. Yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama kita, Dia akan selalu menolong kita. Oleh karena itu kita harus melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus dua puluh sembilan)