Berdzikir Dengan Lisan dan Hati

Tidak bukti dhahirnya dzikir kecuali timbul dari fikiran dan penglihatan batin.

Dzikir yang dilakukan oleh lisan didorong oleh penglihatan hati, maksudnya hati melihat keagungan Allah, hati mengharapkan pahala dari Allah, hati tahu akan pentingnya dzikir, sampai akhirnya lisannya mengucapkan dzikir.

Hati itu adalah tempatnya segala hal, mulai dari itikad atau niat baik dan buruk, pengetahuan, dan lain sebagainya. Apabila hati kita baik maka akan baik juga segala hal yang ada di diri kita, begitupun juga sebaliknya.

Kita harus merawat hati, jangan sampai kotor oleh macam-macam hal, seperti ‘ujub, takabur, riya, dan lain-lain. Peliharalah hati dari sifat-sifat yang buruk, jangan sampai keburukan itu menutupi hati kita.

Dzikir yang dilakukan oleh lisan awalnya karena terdorong oleh hati. Apabila hatinya bersih dan tahu akan keagungan Allah dan mengakuinya, dan merasa bahwa diri kita hanyalah ‘abid-Nya dan diciptakan di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka kita akan sering berdzikir, memuji-muji Allah, bertakbir, bertasbih, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan betapa kecilnya kita di hadapan Allah, kita tidak bisa hidup tanpa pertolongan dan hidayah-Nya.

Dzikir yang kita lakukan adalah untuk kebaikan kita sendiri, lakukanlah dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ridha dari Allah. Karena apabila Allah ridha kepada kita, semua hal akan dipermudah dan tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh lima)