Doa Ahli Ma’rifat

Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin liyakuuna nadhrii ilaa haulika waquwwatika idza adkhaltanii wastislamii wanqiyaadii ilaika idza akhrajtanii waj’al lii.

Tafsir menurut ahli batin: “Ucapkan olehmu wahai ahli ma’rifat, semoga Allah memasukkan kepadaku dengan memasukkan yang benar tujuannya, serta dengan pertolongan Allah. Dan semoga Allah mengeluarkan aku dengan mengeluarkan yang benar tujuannya. Serta atas pertolongan-Nya yaitu supaya bukti penglihatanku terhadap daya upaya Allah, dan kekuatan Allah ketika sudah memasukkan aku. Aku pasrah kepada Allah ketika Dia mengeluarkan kepadaku. Serta semoga menjadikan Allah kepadaku terhadap kekuasaan dari-Mu, yang menolongku, dan untuk menolongmengalahkan nafsuku. Serta aku menolong terhadap kekasihku, serta menolong dalam mengalahkan diriku, tegasnya musyahadah ke selain diri-Mu. Maksudnya ingin ditolong dalam mengalahkan musyahadah kepada nafsuku, serta merusak kepadaku dari lingkungan hisi ku.”

Tingkahnya ahli ma’rifat ketika nuzulun ‘alaa samaa il huquuq, yaitu orang yang ma’rifat kepada Allah swt.

Ketika akan melaksanakan perintah setelah ma’rifat, atau akan melakukan pekerjaan yang diperlukan jasmani, itu dibarengi dengan doa diatas.

Dan juga perlu diketahui bahwa sebenar-benarnya lafadh diatas memiliki 2 tafsiran. Maka menurut tafsir ahli thahir yaitu Allah memerintahkan kepada Nabi saw waktu futuh Mekah, bahwa beliau diperintahkan untuk berdoa Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin………., yang artinya semoga Allah memasukkan ke negara Mekah dengan dibarengi pertolongan-Nya, dan seterusnya.

Sedangkan menurut tafsir ahli batin, yaitu ahli ma’rifat diperintahkan oleh Allah dalam tiap akan melaksanakan perintah-Nya setelah ma’rifat, itu harus berdoa Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin……….,Ya Allah semoga memasukkan aku terhadap pekerjaan ini dibarengi dengan niat yang jujur serta ingin mendapat pertolongan dari Allah. Yaitu supaya ahli ma’rifat dalam mengerjakannya dibarengi rasa bahwa Allah swt yang menghendaki (membuat sesuatu terjadi), bahwa dirinya tidak mempunyai daya dan upaya serta kekuatan, bisa mengerjakannya atas izin Allah swt.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh tiga)