Bagaimana Turunnya Ahli Ma’rifat

Disini akan dijelaskan tingkah perjalanan ahli ma’rifat dalam tingkahnya tadzalli dan tingkah nuzulii.

Dimana-mana ahli ma’rifat sudah mencapai puncak tujuannya, yaitu wushul ke hadhratul qudsiyyah, yang disamakan dengan ‘arasy atau ke sidhratul muntaha, kemudian akan melaksanakan macam-macam pekerjaan yang diperintahkan Allah swt, yang biasa dikerjakan oleh orang muslimin, maka itu seolah-olah akan turun ke langit.

Dalam melaksanakan macam-macam kewajiban yang diserupakan dengan langit, maka melaksanakannya dibarengi dengan adab. Hatinya merasa tidak ada daya dan upaya kecuali atas idzin Allah, mengerjakannya dibarengi dengan adab serta merasa tidak mempunyai kekuatan.

Yang dimaksud atas idzin Allah adalah ada di dalam patokan syara’. Dan yang dimaksud dengan tamkin yaitu gampang melaksanakannya sekira-kira tidak melawan syara’.

Begitu juga ketika melaksanakan sesuatu yang bisa menguntungkan jasmani seperti makan, maka itu melaksanakannya atas izin Allah, yaitu dengan kedatangan ilham atau isyarah.

Jadi ahli ma’rifat ini turunnya kepada macam-macam perintah Allah yang diserupakan dengan langit, itu tidak dibarengi dengan su ul adab dan ghaflah, tetapi dibarengi dengan beradab serta eling kepada Allah swt. Selain itu juga tidak mengerjakan apa-apa yang diinginkan jasmani dan terdorong oleh syahwat, tetapi melaksanakannya dengan adab dan eling.

Yang dimaksud dengan kurang adab adalah seperti mencari atau menginginkan upah dari Allah. Sedangkan yang dimaksud ghaflah adalah ‘ujub, merasa diri bisa mengerjakan. Nah bagi ahli ma’rifat, hal ini merupakan dosa yang memerlukan istighfar. Maka ahli ma’rifat mengerjakan sesuatu itu dengan perasaan tidak ada daya dan upaya, kecuali dengan pertolongan dari Allah swt.

Jadi kesimpulannya adalah ahli ma’rifat ini turunnya dengan pertolongan Allah swt, dia memiliki perasaan tidak ada daya dan upaya, serta tidak meminta upah hasil amalnya atau lillaahi ta’ala, artinya melaksanakannya karena Allah untuk menyatakan keikhlasannya, serta minallaahi karena menyatakan adanya pekerjaannya itu dari Allah swt. Dan ilallaahi, maksudnya menuju Allah swt karena menyatakan bahwa sebenar-benarnya semua urusan itu dikembalikan kepada Allah swt. Serta ketika melaksanakan keinginan jasmani, bukan terdorong oleh nafsu tetapi karena melaksanakan perintah.

Seperti riwayat sayyidina Umar ra, bahwa beliau menikah itu bukan karena terdorong oleh syahwat, tetapi mudah-mudahan Allah swt memberikan (mengeluarkan) keturunan dari beliau, yang bisa memperbanyak umat Nabi saw.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus enam puluh dua)