Alasan Kenapa Harus Meninggalkan Keduniawian Yang berlebihan

Sudah berkata para ahli syair: “Hai orang yang disibukkan dengan keduniaannya, tegasnya kelebihan harta dari yang dibutuhkannya, serta yang sudah tertipu dan tergoda oleh tulul amal, artinya sudah tertipu karena memanjangkan pemikiran dalam kesengan dunia (panjang angan-angan), atau tidak berhenti dari ghaflah dan memikirkan dunia. Sehingga sudah dekat kepada orang tersebut waktunya meninggal.

Maka harus ingat bahwa mati itu bakal datang, tingkahnya (datangnya) seketika (tiba-tiba), sedangkan kuburan menjadi petinya amal (tempatnya amal).

Maka harus sabar kamu dengan kesulitan dunia, dan tidak ada mati kecuali pada waktunya.”

Menurut Hadist

Sudah meriwayatkan Imam Dailami bahwa sebenar-benarnya Nabi Muhamad saw sudah bersabda: “meninggalkan keduniawian itu lebih berat daripada menggunakan pedang dalam mendirikan (menegakkan) agama Allah.”

Dan tidak semata-mata seseorang meninggalkan dunia, artinya kelebihan yang bisa melupakan dirinya, kecuali Allah akan memberi ganjaran seperti yang diberikan kepada para syuhada.

Meninggalkan keduniawian itu yaitu dengan cara menyedikitkan (mengurangi) makan dan kenyang yang bisa mengurangi kesempurnaan. Selain itu tidak suka akan pujian dari sesama manusia, karena orang yang suka pujian manusia berarti suka terhadap dunia dan kenikmatannya.

Siapa saja orang yang merasa senang dengan kenikmatan yang sempurna dan abadi, maka orang itu harus meninggalkan kelebihan dunia (berlebih-lebihan di dunia) dan pujian dari manusia.

Sudah meriwayatkan Imam Ibnu Majah bahwa sebenar-benarnya Nabi Muhammad saw sudah bersabda: “Siapa saja orang yang terbukti niatnya terhadap ganjaran di akhirat, maka akan mengumpulkan Allah swt kepada tujuannya. Serta akan menjadikan kaya Allah swt di dalam hati orang tersebut, dan akan datang keduniaan dengan memaksa. Dan siapa saja yang niatnya kehidupan dunia, maka akan memberikan Allah swt terhadap orang tersebut kepada urusannya. Dan akan menjadikan Allah kepada orang itu diantara dua matanya kefakiran. Serta tidak akan datang kepada orang itu dari keduniaan kecuali seperti yang sudah dituliskan untuk orang tersebut.”

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar