Perintah Wajib Dari Allah Yang Tidak Disukai Nafsu

Dibawah ini akan diterangkan ukuran yang benar dalam haq nya orang yang berusaha mendapatkan pangkat yang mulya, dan yang sedang disibukkan dalam memerangi hawa nafsu.

Firman Allah swt: “Wajaahiduu fillaahi haqqa jihaadih”, Kalian harus memerangi di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.

Dan juga “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa”, dan orang-orang yang perang dijalan-Ku yang agung, yakinlah bahwa Aku yang agung akan menunjukkan kepada orang-orang itu jalan-Ku yang agung.

Nah itu merupakan patokannya perkara-perkara yang dibilang berat oleh nafsunya orang yang berjuang mendapatkan pangkat yang tinggi, maka itu merupakan yang haq.

Jadi dimana-mana orang yang berjuang mendapatkan titel kemulyaan, yang sedang memerangi hawa nafsu. Bila keliru dalam dua perkara, dimana dua-duanya terlihat bagus. Maka harus dilihat mana yang terasa berat menurut nafsu. Kalau menurut nafsu berat, maka itu yang haq dan itu yang harus diikuti. Karena tidak ada keharusan (kewajiban) dari Allah swt yang disenangi oleh nafsu.

Contohnya santri yang belum tamat ngajinya, kemudian ada yang menggoda diajak untuk pindah oleh temannya. Nah ngaji itu memang bagus, gurunya siapa saja dan di pesantren mana saja. Maka kalau tergoda untuk pindah serta berat meneruskan ngaji dipesantren yang lama. Dengan beratnya diam di pesantren lama, seharusnya dia tetap ngaji dipesantren lama. Sebab tidak semata-mata berat diam menurut nafsu, kecuali diamnya itu jadi haq.

Tidak ada yang haq dan keharusan (kewajiban) yang disenangi oleh nafsu, terutama patokan dalam kitab ta’limul muta’allim, bahwa tidak boleh meninggalkan guru sebelum habis ilmu guru diserap olehnya. Tidak boleh meninggalkan kitab sebelum tamat, maka kalau pindah tidak kan barokah. Malah kalau menyakiti guru, akan hilang keberkahan ilmunya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan puluh lima)