Apakah Makna Segala Puji Itu Hanyalah Milik Allah

Manusia itu apabila mendapatkan pujian dari orang lain, dia harus merasa bahwa dirinya tidak memiliki pujian tersebut, karena tidak adanya sifat terpuji (pujian) di diri kita, atau karena merasa diri kita dipenuhi dengan sifat-sifat keaiban.

Bila terjadi demikian (kita dipuji orang lain), kita harus segera membalikkan pujian itu kepada Allah swt, yang memiliki pujian tersebut. Dengan melakukan hal tersebut berarti kita sudah bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang telah diberikan-Nya. Yaitu Allah sudah menutupi keaiban yang ada di diri kita, karena kalau didhohirkan keaiban tersebut maka tidak akan ada orang yang memuji kita. Oleh karena itu kita jangan tertipu dengan pujian dari orang lain, hal ini bisa menyebabkan pangkat kita jatuh.

Biasanya banyak sekali orang yang senang dan berbahagia apabila dipuji oleh orang lain. Dia tidak menyadari akibat yang ditimbulkannya, malah berusaha semaksimal mungkin melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan pujian dari orang lain. Misalnya beramal karena ingin dilihat orang lain (riya), tetapi ketika tidak ada orang lain yang melihat dia tidak melakukannya (beramal).

Pujian juga bisa membuat orang-orang lupa diri, ‘ujub dan takabur, dan menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Sifat-sifat ini harus dihilangkan dalam diri kita, karena akibatnya sangat fatal. Kita harus menyadari dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa pujian itu hanyalah milik Allah. Sedangkan manusia dipenuhi dengan segala kekurangan dan keaiban.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh dua)