Mengapa Wali Allah Tidak Bisa Diketahui Oleh Manusia Biasa

Para wali Allah adalah orang yang mendapatkan keagungan dari Allah, yang diberikan sifat-sifat kemulyaan oleh Allah. Para wali tersebut tidak bisa diketahui kewaliannya, sebab Allah tidak membuat dalil yang menyatakan bahwa orang tersebut adalah wali Allah. Tetapi kadang wali-wali itu bisa diketahui kewaliannya dari ciri-cirinya, seperti adanya karomah. Dan orang-orang tidak bisa mengetahui kewalian seseorang kecuali bagi orang yang sudah dikehendaki oleh Allah (yang sudah wushul ke Allah). Oleh sebab itu sering dikatakan oleh para ulama: “laa ya’lamul waliyya illal waliyyu”.

Allah swt menutupi asrar nya para wali, sehingga tidak ada yang tahu bahwa dia itu wali, sebab wali-wali itu adalah orang-orang yang diberi kemulyaan oleh Allah. Maka seperti dzat Allah, disebabkan keagungan-Nya dan kemulyaan-Nya, itu tidak bisa dilihat oleh manusia. Begitu juga dengan walinya Allah, yang merupakan pangkat keagungan dari Allah, nah hal ini juga ditutupi oleh Allah. Sehingga tidak bisa dilihat dan tidak diketahui oleh umumnya manusia.

Paling juga orang yang menyebutkan tentang kewalian seseorang, dia mengetahuinya dar ciri-cirinya kewalian. Sehingga ada ulama yang berkata bahwa mengetahui wali itu lebih sulit daripada mengetahui Allah. Sebab kalau mengetahui Allah bisa diketahui dari sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya, yaitu ada ciptaan-Nya. Dengan adanya ciptaan Allah bisa mengetahui akan adanya Allah.

Sedangkan walinya Allah yang kehidupannya seperti manusia biasa, kewaliannya sulit diketahui. Sehingga dikatakan oleh Abu Yazid ra, walinya Allah itu adalah seperti orang yang sedang menjadi pengantin, tidak akan ada orang yang mengetahui apa yang terjadi di kamar kecuali pengantin tersebut (mahramnya),  maksudnya tidak ada yang mengetahui pengantin perempuan kecuali suaminya. Dan tidak ada yang bisa melihat pengantin laki-laki kecuali istrinya. Begitu juga dengan wali Allah, tidak akan ada yang melihat kewaliannya kecuali oleh para wali lagi.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima puluh tiga)