Nabi Muhammad Bisa Melihat Cahaya Allah

Bagaimana Allah akan terhalang oleh suatu perkara, sedangkan perkara yang menghalanginya itu menjadikan petunjuk terhadap dhohirnya Allah dan wujudnya Allah swt, dan hadirnya Allah.

Allah swt itu tidak terhalang oleh apa-apa, sebab yang menjadi penghalangnya juga adalah tapak/jejak ciptaan-Nya, yang menunjukkan adanya Allah swt.

Allah swt memperhatikan segala itikad atau gerakan hati kita semua, Allah tidak terhalang. Di dalam hadist qudsi dinyatakan bahwa sebenar-benarnya hijab Allah swt adalah suatu cahaya, yang apabila dibukakan cahaya tersebut maka akan terbakar semua perkara yang terkena cahayanya.

Pada jaman Nabi Musa as, gunung yang kedatangan cahaya Allah swt menjadi hilang, kemudian Nabi Musa juga pingsan sebelum melihat cahayanya.

Dan ketika Nabi Muhammad melakukan isra mi’raj, Malaikat berkata kepada Rasulullah: “Berangkatlah engkau Muhammad sendirian, aku tidak diizinkan bersamamu, sebab kalau aku bersamamu di tempat menghadap Allah, aku akan terbakar”.

Jadi di alam dunia ini semuanya tidak ada yang bisa melihat dzat yang mukhalafatu lilhawaditsi selain dari Rasulullah Muhammad saw. Jadi hikmahnya Allah swt tidak bisa dilihat oleh kita semua adalah untuk keselamatan kita semua.

Kita harus meyakini bahwa Allah swt melihat segala gerak dan tingkah laku kita semua, oleh karena itu kita harus senantiasa menjaga dan terus menambah keimanan kita kepada Allah swt. Selain meyakini keberadaan Allah, kita juga diwajibkan untuk senantiasa meneladani cara hidup dari Nabi Muhammad saw.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus delapan)