Mengapa Manusia Harus Istiqamah dan Karomah Yang Ada di Para Wali

Orang yang belum sempurna istiqamahnya terkadang oleh Allah diberi amrun khariqun lil’adat. Hal tersebut (amrun khariqun lil’adat) oleh para ahli tahqiq dan ahli ma’rifat tidak dianggap bangga, dan tidak dijadikan pokok tujuan.

Dalam karomah itu ada dua, yaitu:

  1. Karomah hissi, yaitu yang diartikan kharqun lil’adat. Seperti bisa berjalan diatas air, bisa terbang, atau berjalan cepat.
  2. Karomah haqiqi atau yang disebut karomah ma’nawi, yaitu istiqamahnya seorang ‘abdi terhadap Allah dalam dhohirnya (lahirnya) maupun batinnya. Yang kembalinya yaitu sempurnanya keimanan dan sempurna ittiba’ kepada Rasulullan saw. Karomah haqiqi juga diartikan istiqamah, maksudnya jujur dalam menjalankan agama serta menghasilkan keyakinan yang sempurna.

Maka siapa saja yang kedatangan amrun khariqun lil’adat sambil sudah bisa mendiami di karomah haqiqi, maka oleh kita wajib diagungkannya. Yaitu seperti karomah yang muncul dari para wali, nah mereka oleh kita wajib diagungkan. Sebab mereka merupakan orang-orang yang dihormati oleh Allah, sehingga diberi ciri dengan karomah.

Misalnya kewalian Syeikh Abduk Qadir Jailani yang sangat masyhur (terkenal), sebab beliau dhohir istiqamahnya atau karomah haqiqinya, dan karomah kharqul ‘adatnya.

Menurut ulama bahwa tidak dianggap sebagai sebuah urusan yang agung seseorang yang bisa melipat bumi (seperti dari Indonesia berangkat ke Mekah dengan waktu yang sangat singkat/sejam). Tapi yang dianggap agung iu adalah yang bisa melipat sifatnya diri, misalnya yang tadinya jauh dari Allah tiba-tiba jadi dekat kepada-Nya. Atau bisa melipat waktu dari sekarang ke akhirat, sehingga dalam zaman/waktu yang lama dari sekarang sudah bisa dirasakan, maka orang tersebut merasa sudah sampai di akhirat.

Siapa saja orang yang sudah merasa dekat ke akhirat, sehingga bisa beramal untuk kepentingan akhirat, maka dia sudah benar-benar sudah mendapatkan kebanggaan dan mendapatkan keagungan. Oleh sebab itu para ahli tahqiq dan ahli karomah, membanggakannya terhadap karomah haqiqi bukan karomah kharqul’adat. Sebab kalau karomah kharqul’adat itu terkadang orang yang belum bisa istiqamah juga memilikinya. Sehingga para ulama mengatakan bahwa sebenar-benarnya kita jangan tertipu dan jangan merasa aneh apabila ada kharqul’adat. Banyak sekali contohnya, seperti orang yang bisa berjalan diatas air, bisa terbang, ini tidak harus dibanggakan. karena burung juga bisa terbang, atau kodok bisa berjalan diatas air.

Tidak setiap orang yang mendapatkan keistimewaan itu sempurna keihklasannya, sehingga banyak orang yang tidak ikhlas tapi memiliki keanehan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tujuh puluh dua)