Mensyukuri Nikmat Pemberian Dari Allah

Orang yang sempurna ma’rifatnya kepada Allah swt dan beriman terhadap qadha dan qadar, dan terhadap segala kehendak-Nya merupakan hal yang sangat baik. Karena Allah akan menghendaki terhadap segala kehendak-Nya dan semua pilihan-Nya. Sedangkan tidak ada pilihan yang lebih utama selain dari pilihan Allah.

Maka menurut ahli ma’rifat semua kehendak Allah itu bagus, tegasnya kalau memberi bagus dengan memberinya, kalau nolak bagus dengan nolaknya. Apabila diberi, dirinya tidak terlalu senang, dan apabila ditolak dirinya tidak prihatin. Sebab pemberian-Nya dan penolakan-Nya sama-sama bagus. Terutama bila melihat segala tugas yang perlu dikerjakan dalam menghadapi takdir Allah, maka orang yang diberi oleh Allah harus bisa mensyukurinya, kalau tidak bisa dia diancam dengan siksaan. Seperti yang difirmankan Allah: la in kafartum inna ‘adzabii lasyadiidun”, tegasnya kalau kita tidak mensyukuri segala kenikmatan (kufur nikmat) maka akan didatangan (diberi) siksaan.

Oleh karena itu dengan diberi oleh Allah, maka ditugaskan atau diperintahkan untuk mensyukurinya. Ahli ma’rifat tidak terlalu senang dengan pemberian Allah, malah sering prihatin, karena takut tidak bisa mensyukurinya. Sedangkan apabila ditolak ahli ma’rifat tersebut tidak prihatin dengan penolakan-Nya.

Sebab dia berfikiran bahwa Allah akan memberikan yang lainnya yang lebih maslahat, atau diberikannya nanti (setelah waktu yang lama) agar maslahat. Jadi apabila ahli ma’rifat keinginannya tidak dilaksanakan (dikabulkan) oleh Allah, dia tidak merasa prihatin.

Kalau kita memiliki keinginan dihadapan Allah, tetapi kita memiliki perasaan senang apabila diberi dan prihatin apabila tidak diberi. Seperti orang yang menginginkan kawin dengan seseorang, kalau tidak terwujud dia akan ngamuk. Nah hal ini menunjukkan adanya sifat buruk di diri kita, yaitu pikirannya hanya senang diberi saja. Dia tidak ingat atau tidak memiliki rasa malu, dan tidak takut berdosa, yang penting adalah bahwa dirinya diberi. Sehingga kalau diberi senang kalau tidak diberi bingung, serta tidak memperhatikan akibatnya kalau diberi.

Seharusnya apabila kita diberi kita harus senang dan bersyukur kepada Allah (yang memberinya). Sehingga dengan bersyukur kita akan mendapatkan keridhaan dari Allah swt. Tetapi dimana-mana keinginan kita tidak dikabulkan oleh Allah, maka kita jangan merasa prihatin, kecuali apabila kehilangan keimanan. Bahwa sebenar-benarnya kehendak Allah itu adalah pilihan-Nya, sedangkan tidak ada pilihan yang lebih utama daripada pilihan Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh empat)