Mengapa Kita Harus Mencintai Allah

Tidak semata-mata kita menyukai suatu perkara, kecuali terbukti kita menjadi ‘abdinya perkara tersebut. Sedangkan Allah swt tidak menyukai baktinya kita kepada selain Allah.

Mencintai suatu perkara dapat mendorong kita untuk pasrah terhadap perkara tersebut, dan hatinya akan sangat menempel, serta tidak mau diganti dengan yang lainnya. Sehingga menurut peribahasa cintanya kita terhadap suatu perkara sering menjadikan buta dan tuli, misalnya anak kecil yang senang dengan layangan, dia tidak melihat terhadap yang membahayakan dirinya dan tuli terhadap peringatan orang lain.

Orang yang mencintai selain Allah, berarti sudah menyatakan diri jadi ‘abdinya selain Allah. Sedangkan Allah tidak menyukai ketika kita sedang jadi ‘abdinya selain Allah. Sebab kalau kita cinta kepada selain Allah, pasti kita akan tunduk, tho’at, dan pasrah kepada selain Allah.

Hati itu hanya sekedar satu hadap-hadapan, sedangkan hati manusia hanya satu. Bila hati cuma satu hadap-hadapan, maka ketika sedang menghadap kepada selain Allah pasti akan belok dari Allah swt. Padahal yang harus dihadapi yaitu Allah swt.

Jadi kesimpulannya kalau kita ingin dicintai Allah swt, kita harus cinta kepada Allah swt, yang dibarengin dengan khudhu’ serta tho’at menghadap Allah. Sedangkan cinta kepada selain Allah (yang menghalangi) harus dikesampingkan dan dilepaskan.

Intinya adalah kita harus lebih mengutamakan rasa cinta kepada Allah, jangan sampai lebih mengutamakan cinta kepada sesama makhluk atau cinta terhadap perhiasan dunia.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus satu)